Senin, 01 Juni 2009

Belajar dari dongeng

Pada hari sabtu kemarin (gaya memulainya ga banget, mengingatkanku pada lagu pada hari minggu kuturut ayah ke kota), seperti ditulis Teh Echi, kami ngetem di gramedia Denpasar sampai tiga jam. Ada sudut yang aku sukai disana, di bagian buku anak tepatnya di bagian dongeng. beberapa buku dongeng disana terbuka sampulnya, dan dua kali ketemu teh Echi, beliau selalu menemukanku disana.

Masa kecilku hanya dipenuhi oleh permainan petak umpet, main karet, metembing (indonesianya ga tau), maen dengkleng-dengklengan (ini apa lagi). Belum ada buku bacaan waktu itu, terutama karena memang tinggal di desa dan fasilitas belum memadai. Aku baru bisa baca dongeng saat sekolah, itupun baca dari buku pelajaran bahasa indonesia. Buku cerita lepas yang pertama aku baca itu waktu kelas 5, yang bercerita tentang anak yang berbohong dan kepalanya ditumbuhi tomat. Jadi saat itu aku sama sekali tidak tahu dongeng cinderela, putri salju atau yang lainnya. Tapi... nyah, kok jadi curhat sih.

btt, sabtu lalu selain Robin Hood, aku juga membaca buku kumpulan dongeng. Satu dongeng yang menarik perhatianku, walau sebelumnya pernah membacanya di sebuah karikatur anak dengan cerita yang sangat jauh berbeda.
Disini aku coba menceritakan kembali dongeng itu.
****


AIR SUSU DIBALAS AIR TUBA


Suatu waktu hiduplah seorang petani bodoh. Ia sedang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar ketika mendengar suara tangisan. Berapa lama mencari, akhirnya ia menemukan dari mana asal tangisan itu. Ternyata seekor ular sedang terjepit di bawah batu.

"Petani, tolong lepaskan aku," pinta ular itu.

Petani yang bodoh itu menolak. "Tidak, nanti kalau aku melepaskanmu, kamu akan menggigitku."

Ular itu menggeleng. "Tidak mungkin, aku tidak akan menggigitmu. Kamu telah berbuat kebaikan padamu, tidak mungkin aku membalasnya dengan kejahatan."

Akhirnya petani yang bodoh itu percaya, ia membantu sang ular dengan mengangkat batunya. Akhirnya ular itu senang bisa lepas, dan apa yang terjadi?
Ternyata ular itu melupakan perkataannya dan hendak mematuk petani bodoh itu.

"Kamu bilang tidak akan membalas kebaikanku dengan kejahatan tapi mengapa kamu tetap mau mematukku?" tuntut petani itu.

Ular itu tertawa. "Mana ada di dunia ini hal seperti itu. Dimana-mana kebaikan selalu dibalas dengan kejahatan!" kata ular itu.

"Mari kita tanyakan pada orang lain," usul petani itu.

Ular setuju dan akhirnya mereka berkeliling hutan untuk menanyai yang lain.
Hewan pertama yang mereka temui adalah seekor kuda tua.

"Kuda, kebaikan itu dibalas dengan apa?" tanya petani itu.

Kuda itu menjawab, "Kejahatan. Pada waktu muda, saat tenagaku masih kuat, manusia memperlakukanku dengan baik. Aku diberi kandang yang layak, jerami yang segar. Lalu sekarang, setelah tua mereka mengusirku."

Ular dan Petani kembali melanjutkan perjalanan. Hewan kedua yang mereka temui adalah domba. Mereka kembali menanyakan, kebaikan itu dibalas dengan apa.

Domba menjawab "Kejahatan. Pada musim panas manusia membiarkan buluku tumbuh hingga aku kepanasan, namun pada musim dingin mereka mencukur buluku hingga aku kedinginan."

Ular sudah siap mematuk kala itu, namun petani itu berkata bahwa mereka harus menemukan hewan ketiga. Mereka terus berjalan, dan suatu saat petani melihat seekor rubah yang lewat. Maka sebelum ular melihat serigala itu, sang petani cepat-cepat berkata pada serigala itu.

"Kalau ditanya, jawablah kebaikan itu harus dibalas dengan kebaikan. Nanti aku akan memberimu itik, anak babi dan domba sebagai makananmu."

Sang rubah setuju dan ketika ditanya oleh ular ia berkata bahwa, "Kebaikan itu harus dibalas dengan kebaikan."

Maka dengan rubah itu, petani dan ular kembali ke tempat semula. Ia meletakan ular di bawah batu, dan petani selamat dan tidak jadi dipatuk oleh ular.

Malamnya, rubah datang ke rumah peani untuk memperoleh imbalannya. Namun petani itu telah mengunci smeua kandang. Kandang itik digerendel, kandang babi diisi batu dan kandang domba diisi kayu besar.
Bahkan petani juga menempatkan anjing besar yang galak di depan kandang.

Rubah akhirnya pergi."Wah Pak petani, kau jadi pintar sekarang," katanya. "Ternyata memang benar kata ular itu, kebaikan dibalas dengan kejahatan!"
****

25 komentar:

  1. Sayangnya mereka gak nanya ke Semut ya...
    Kalo nanya pasti aku jawab, kebaikan, karna slama berkliaran, aku gak prnh di injek.

    Salam kenal Non.. aku follow km ya?

    BalasHapus
  2. apruuuuvvveeee................


    ehh... lom komeng kayaknya...

    baca dulu ahh....

    BalasHapus
  3. aku baru nyadar ternyata ular juga bisa di ajak kompronmi ya.... mirip kucing juga... hohoho....

    aprruuuuuvvveee...

    BalasHapus
  4. yah bingung juga ya kalau begitu,, tergantung orangnya masing² sih.. tapi yang pasti ada pertanyaan nih :

    yang bener, pahlawan pembela kebenaran atau pahlawan pembela kebetulan??

    hayooooooooooo!!??

    BalasHapus
  5. @ neng aia, kalau begitu jawabanku juga tergantung orangnya masih-masih dah, wuakakak

    @ zujoe, ular juga hewan.begitu juga kucing.

    @rio si semut, jalannya di tengah sawah sih :P

    GUYA, APROVAL DITIADAKAN DAN PAKE EMBEDED BELOW POST, ASYIKK

    BalasHapus
  6. wah hebat yaa, nongkrong di gramedia, nggak beli buku...
    tapi bisa nulis ringkasannya.... salut deh....



    suami teladan = suami ideal

    BalasHapus
  7. hehehe... settingan komen baru nih :D

    pa kabar?? kangen dah lama gak blogging :P

    BalasHapus
  8. wah gak semuanya kek gitu kali chi...tergantung masing2 aja spt aia blg hehe

    mrs.magabutttttt.....

    BalasHapus
  9. eh,,, jd kangen ke gramedia dan nongkrong di bagian novel2.... hehehe...

    btw, ingatan km kuat ya... bisa ceritain itu lagi...

    BalasHapus
  10. Jadi, orang yang suka balas kebaikan dengan kejahatan itu nyontek dari ular yak? *bingung sambil garuk-garuk aspal*

    BalasHapus
  11. eh lupaaa...salam kenal yak... aku pollow kamu, pliz pollow me back ;p

    BalasHapus
  12. kejahatan dibalas dengan kebaikan aja..

    BalasHapus
  13. wah-wah ternyata hukum alam seperti itu yak, kebaikan dibalas dg kejahatan..... si petani ternyata jahat juga......

    BalasHapus
  14. hehehehe, jadi inget sama dongeng jaman Jonk masih imut2 wkwkwkwkwkw (sekarang kan udah amit2)

    eh tapi banyak juga yang air susu di bales air susu lho :D

    BalasHapus
  15. Mbak.. postingan ini sprt masa lalu saya. Saya memang ular itu. Skrg saya myesal, salam knal Mbak saya sudah insyap.

    BalasHapus
  16. kenapa ya kebaikan di balas kejahatan..?? biar seimbang kali ya.. kalo ke-baik-an salah.. kalo ke-jahat-an . juga salah :)) ( OOT ya..?? ) Wakakaka Btw Nice post salam kenal

    BalasHapus
  17. iya ah..
    setuju aja sama ceritanya :)

    BalasHapus
  18. ca... besok-besok kita di blacklist jangan-jangan sama gramedia gara2 keseringan nongkrong berlama2 hahaha...

    BalasHapus
  19. hu..hu kandangku di grendel
    gimana aku bisa keluar????
    gimana aku bisa berenang??

    Kebaikan dibalas sama kejahatan??
    tak bawain golok aja..
    (kebiasaan dan bawaan orok)

    BalasHapus
  20. Oh, jd nieh buku dr dongeng? Pantes ja berasa prnah tau... Ckckck

    BalasHapus
  21. Oh, jd nieh buku dr dongeng? Pantes ja berasa prnah tau... Ckckck

    BalasHapus
  22. gak semua kebaikan dibalas kejahatan kok. ada juga yg membalasnya dg kebaikan pula. but..ini cuma dongeng kan? intinya : kita harus hati2 dan cerdik. jangan terlalu polos aja gitu lho.

    BalasHapus
  23. wah, baru nyadar gak pake moderasi lagi ya?

    BalasHapus