Sabtu, 05 Desember 2009

Nigahiga dan New Moon Jadi-jadian

Biar belun nonton, tetapi tetap ikut menyemarakan New Moon. Yuk lihat traillernya



Eh, kok edward jadi begitu yak? Ups... Traillernya salah. MySpace Ampun teh linda ama mamer, jangan digetok. Salah copas *padahal disengaja*

Nah yang bener yang ini:



Keduanya mirip bukan. Ya eyalah, video pertama merupakan 'bajakan' dari video kedua. Merupakan versi movie in minutes yang dibuat oleh sebuah account yang bernama Nigahiga di youtube. Ada banyak film-film yang dibajak, dan tujuan sudah pasti tentu memang hanya untuk hiburan semata. Versi Twilightnya malah lebih lucu dan ternyata mampu bikin Teh Linda sama mamerku nangis.

Account Nigahiga ini dipunyai oleh seorang remaja berusia 19 tahun bernama Ryan Higa, itu tuh yang jadi edward. Mukanya mirip orang jepang tetapi ternyata orang hawaii. Dan yang aku suka, ini anak masih kecil, tetapi kreatif dan gokil banget. Salah satu notenya di youtube itu begini bunyinya,

"The big boss of Youtube asks Ryan and the others to create a PSA to help educate the viewers and better the world!"

Bener ga ya. Tapi bener ga nya, menurutku dia pantas disebut Orang-orang keren, yahh seperti... aku MySpace

Read More......

Kamis, 03 Desember 2009

Besok Pernikahan Saya dan Saya Kurang Bahagia

"Besok ini hari pernikahan saya dan saya bahagia."

Okay, statement yang sangat wajar. Tapi bagaimana kalau dibalik menjadi...

"Besok ini hari pernikahan saya dan saya tidak bahagia."

Itu tidak wajar! Gila apa, orang mana yang wajar kalau dia ga bahagia dengan pernikahan yang dipilih serta direncanakannya sendiri. But wait... sedikit perubahan yak...

"Besok ini hari pernikahan saya dan saya kurang bahagia."

Hmm... sepertinya ini menjadi agak sedikit lebih wajar. Yah.. fifty fifty lah, karena kan satu moment ada plus minusnya. Dan minusnya dalam hal ini adalah, besok saya menikah dan entah kenapa sekarang saya agak sedih. Bukankah sedih itu tanda tidak bahagia?!

Saat ini saya sedang berada di rumah calon suami saya. Jalan Duren nomer dua belas. Rame banget disini, orang-orang pada bikin tenda, ada yang ngerias rumah,ada yang masak, ada yang siapin baju, ada yang nyuci piring, ada juga yang nyuci badannya sendiri. Dan ouh, itu si Aki lagi mandi setelah badannya berlumpur. Intinya semua sibuk.

Dan saya juga sibuk, sibuk bengong. Saya duduk di belakang rumah yang paling besar, di bawah pohon mangga yang buahnya banyak. Aneh ya kenapa pengantinnya malah sante-sante duduk sementara orang-orang sibuk. Ngg... ga aneh, soalnya tadi saya abis buang sampah, jadi mumpung sepi ya baiknya ngadem dulu bentar.

Saya inget sama mantan saya. Namanya Anton. Kami pernah bersumpah akan sehidup semati bersama, tetap dekat satu sama lain sampaiiii mati. Saya pacaran sama dia lama. Bih, bukan lama doang, tapi lamaaaaa banget. Sepuluh tahun, dari esde sampai kuliah. Lulus kuliah saya putus sama dia. Ga usah dibahas kenapa, soalnya saya malas membahas. Miris soalnya, harus dipaksa putus karena orang tua tua dia ga setuju sama saya yang berandalan dan.. eh, kok malah buka kartu, kan harusnya secret.

yah, miris kan. Nangis tujuh hari tujuh malam, ga makan sehari semalam lalu ngunci diri di kamar satu jam satu menit, sisanya kabur ke pantai.

Sedih banget. Ga ikhlas ngelepas satu sama lain. Sampai-sampai kita berdua janji, nikahnya harus barengan jadi kita ga akan saling ngundang satu sama lain. Jadi ga perlu melihat yang satu di pelaminan duluan, dan yang lainnya nyusul belakangan. Intinya nikah barengan, jadi ga ada ucapan selamat ataupun doa. Dan... ga harus saling ketemu saat nikah, titik!

Dan yah, jadi jika saya ingat kalau besok saya nikah, maka saya juga akan ingat besok Anton juga nikah. Dan, yah.. walau udah lewat lama, tapi rasa itu tetap ada. Rasa miris dan sakitnya maksudnya. Jadi.. yah, itu dia yang jadi awal mula pernyataan-pernyataan diatas.

"Besok ini hari pernikahan saya dan saya kurang bahagia."

Sambil menghela napas saya menyandarkan badan ke pohon mangga. Kepala terangkat ke atas, mata menatap langit biru. Menerawang kata orang, dan kalau begini jadi ingat lagunya Iwan Fals.

Ku menunggu seorang kekasih, yang tercantik yang datang di hari ini....

Hah... saya seperti linglung membayangkan dia di pelaminan dengan orang lain. Sedih kan, perih kan, sakit kan?! Rasanya masih tidak rela, tidak ikhlas, tidak ridho dia nikah sama orang lain. Yah, walaupun saya juga mau nikah. Cuman yah...

Hahh... gitu deh.

Capek sakit hati, akhirnya saya bangun dan melangkah ke kiri sedikit dari pohon mangga, sampai di batas pagar yang agak rendah untuk melihat rumah tetangga sebelah. Saya mau mengintip ke sana. Ketika saya berjinjit, nampak seorang pria sedang berdiri memasang janur pada satu tiang tenda biru. Tenda pernikahan.

Hati saya mencelos. Iya, dia Anton. Akan menikah besok dan malangnya, rumahnya berdampingan dengan rumah calon suami saya. Jadi, saya dan dia benar-benar akan tetap berdampingan sehidup semati, berdekatan, hanya saja berlainan rumah dan tentu saja ranjang. Ah...

"Besok ini hari pernikahan saya dan saya kurang bahagia."

*****

Denpasar, 3 Desember 2009
15.33

Tulisan gila, hasil otak diperas si Clara lagi.

Read More......

Selasa, 01 Desember 2009

The Girl Next Door

Hari Kamis, tanggal 1 maret 2010, jam sepuluh malam lewat lima belas menit. Suhu di dalam ruangan menunjukan 37 derajat celcius namun berkurang satu derajat celcius ketika jendela dibuka. Kecepatan angin standar, butuh waktu dua jam untuk mengeringkan baju. Langit cerah, bulan bersinar terang dan rasi Orion mengambang di tengah-tengah.

Dan gadis sebelah kamarku menangis.

Dia baru datang lima belas menit lewat sepuluh detik yang lalu, dengan benturan hak sepatunya pada keramik lantai yang setara derik jangkrik di sawah. Sangat keras. Pintu kamarnya terbuka, sehingga suara tangisnya semakin jelas terdengar diantara heningnya malam. Syukur di kost hanya ada aku, hanya kamarku yang hidup lampunya dan dia tahu itu sehingga berani menangis seperti itu.

Apa dia mengharap aku menengoknya?

Tidak ada pilihan lain.

Lewat celah pintu aku lihat ia tertelungkup di ranjangnya. Tidak begitu jelas karena kamarnya gelap. Mungkin air matanya keburu tumpah jika disuruh menghidupkan lampu, namun lampu teras lumayan terang hingga aku tidak perlu meraba-raba untuk mencari saklar lampu.

Lampu menyala, kamar terang. "Nita, kamu kenapa?"

Nita tampaknya tidak terkejut kalau aku lancang masuk kamar dan duduk di samping ranjangnya. Buktinya dia tetap tertelungkup dan tidak berusaha menyembunyikan tangisnya. Badannya naik turun, dan aku menunggu hingga ia berbalik sendiri.

Matanya sembab dan rambutnya berantakan. Yah, sedikit aneh mengingat seingatku dia selalu rapi, feminim dan anggun. But, everyone has their own problem.

"Git..." panggilnya sembari disela isak tangis. "Oboy.. Oboy..."

Dia masih susah bicara, tapi nampaknya dia mau curhat tentang pacarnya, Oboy.

"Oboy selingkuh..." ia kembali terisak. "Temanku ngelihat dia jalan sama cewek kemarin..." ia menangis lagi.

Aku menarik napas dan menepuk bahunya. Apalagi yang bisa kita lakukan saat melihat orang lain patah hati? Yah, hanya itu.

"Aku ga tahu kenapa dia begitu. Padahal disela-sela kesibukanku aku masih sempat meluangkan waktu untuknya," lanjut Nita.

Iya, Nita seorang model. Kesehariannya dipenuhi dengan pemotretan, fashion show dan juga fitting baju. Tidak heran kalau ia sangat sibuk, tetapi tidak jarang pula aku lihat dia menemani Oboy pergi.

"Aku tidak tahu apa kekuranganku sampai dia selingkuh, aku tidak pernah menuntut macam-macam. Aku merasa sudah menempati posisiku sebagai pacarnya dengan baik, dan selama ini kita memang tidak pernah ada masalah. Tapi kenapa... kenapa.. kenapa dia..." Nita makin emosional, kedua tangannya meremas rambut sambil ia tetap tersedu.

Tanganku masih menepuk bahunya ketika ia mencapai titik emosi dan menghambur ke pelukanku. Ia menangis sejadinya, membuat bahuku terasa basah oleh air mata.

"Aku tidak kuat, Git. Aku pingin mati saja kalau begini!" ringisnya.

"Sabar, Nit. Jangan berpikir pendek begitu!" hiburku.

"Tapi Oboy, Git.. Oboy...!"

Aku diam, tidak menjawab. Percuma dikasih penjelasan sekarang. Orang yang patah hati hanya butuh sendiri dan meratap. Beberapa saat dia menangis dipelukanku, memaki, memelas, memilu. Aku membiarkannya, sampai ia berhenti sendiri.

Butuh waktu satu jam bagi Nita dan ketika saat itu datang ia sudah sedikit tenang.

"Thanks, Git," ucapnya sambil tersenyum kecil. "Selalu merepotkanmu."

Aku menggeleng. "Tidak masalah, selama kamu bisa lebih lega."

Nita mengangguk, dan saat seperti itu ia tambah cantik. "Tidurlah, besok kuliah kan kamu?!" katanya.

Aku mengangguk. "Ya sudah, kamu juga tidur ya!" jawabku sambil berdiri. Sesaat mataku menyapu sekeliling kamarnya. Tidak ada yang mencurigakan, namun ada sebuah bungkusan plastik putih di pojok. Seperti belanjaan, dan aku melihat sebuah pisau kecil di dalamya.

Aku mengambil pisau itu itu. "Tidak berani membiarkan yang seperti ini disini, akan aku amankan di sebelah."

Ia nyengir, antara geli dan malu. Iyah, sudah banyak barangnya yang aku sita. Terakhir kali pisau lipat yang hampir menggores pergelangannya saat Oboy tidak menelponnya seminggu. Yah, bagaimanapun juga akan repot kalau ada mayat di kost-kostanmu dan itu adalah the girl next your door.

Setelah yakin dia lebih baik, aku kembali ke kamar dan mengunci pintu. Tampak ponselku menyala, saat aku cek ada satu panggilan tidak terjawab. Tidak menunggu lama, panggilan selanjutnya sudah tersambung.

"Iya..."

"Hai, Sayang. Ngapain telponku tidak diangkat?"

Aku tersenyum. "Menyita pisau dapur, lama-lama aku bisa jualan pisau."

Dia tertawa di seberang, "Dan semuanya barang rampasan!"

"Masih bisa tertawa kamu?"

"Lalu apa kalau tidak tertawa?" jawabnya menjengkelkan. "Yah, kan memang itu fungsimu disana, Sayang. Jadi Ibu Peri yang menyelamatkan the girl next door dari maut. Jadi malaikat penjaga!"

Aku berbaring di ranjang, sebelah tanganku menimang pisau dapur mungil itu sementara sebelahnya lagi menjaga ponselku tetap nempel di telinga. "Aku lelah, Sayang," keluhku sambil menghela napas. "Kapan aku selesai dari tugas ini?"

Nadanya di seberang berubah serius. "Sabar, Sayang! Setelah semuanya beres, kerjaanku beres, dana kita cukup untuk sebuah rumah dan kehidupan layak di Swiss, semuanya akan selesai."

Swiss, pegunungan Alpen, hanya itu iming-imingnya yang membuatku sabar selama ini. Yah, entahlah. Tetapi hidup memang ada perjuangan, bukan?! Kata orang, No Pain No gain, dan itu berarti harus susah dulu sebelum senang. Lagipula, apa susahnya menjaga orang biar tidak bunuh diri?

"Baiklah, tetapi aku tidak mau jalan-jalan ke mall lagi. Temannya melihat kita ternyata, makanya dia nangis tadi."

Oboy hanya mendesah disana, kata iya nya terdengar sabar dan merdu, dan aku mencintainya.

"Nite, Gita ku sayang," desahnya. "Miss u!"

"Nite, Oboy. Miss you too!"

Hari Jumat tanggal 2 Maret 2010, jam 00.01. Cuaca tetap cerah, dan akan selalu cerah. Rasi Orion tetap di langit, dan mimpi segera datang.

*****

Denpasar, 1 Desember 2009
10:40

Judul dan ide pokok dari clara sebagai kelanjutan atas Kapan Kamu Besar, Nak?. Pembuka meniru gaya Farida Susanti dalam novelnya yang berjudul Dan Hujanpun Berhenti. Tidak diperuntukan untuk siapa-siapa.



Read More......

Minggu, 29 November 2009

Opera VS Mozilla Firefox

Pernah mengalami susah komentar pada sebuah blog dengan kotak komentar bertype embedded below post karena profile kita tidak muncul? bagi yang langganan pake Opera pasti ga asing sama gambar seperti dibawah ini (jangan lihat judul postingan, lihat kolom profile dibawah kotak komentar)



Sudah hampir sepuluh menit ini blog dibuka tetapi kotak komentarnya tetap seperti itu, jadi hampir beberapa kali aku mampir ke blog ybs dan tidak koment. Menyebalkan...

lalu solusinya apa?
Pake MOZILLA FIREFOX! Sekali anda buka blog yang bersangkutan, maka profile akan muncul secepat anda scrool ke bawah, tidak peduli koneksi anda dudud atau pinter.
Cuman masalahku kenapa tetap pake Opera adalah, karena blogku tidak bisa diklik kanan kalau pake Mozilla Firefox, namun bebas hambatan kalau pake Opera. Inilah salah satu kelebihan Opera yaitu tidak mempan pada kode-kode penangkal copy paste (mungkin tidak semua jenis, hanya beberapa yang pernah aku alami), jadi yang seneng melakukan aksi contek mencontek, maka gunakanlah Opera.

Yang nanya kenapa ga bisa klik kanan di postingan sebelumnya, ada satu bagian HTML yang dirubah beberapa waktu silam, dan sialnya pas aku mau memperbaiki aku lupa bagian mana. Dan.. teman yang dulu ngasi scriptnya juga lupa.

Hm.. sekalian nebeng award, malu kelamaan numpuk di gudang. Buat Bang Munir dan Aditya's Blogsphere. Thanks yaww
Award backlinkHeartfelt Blogger Award

Blogger Award Comunity            


N.B.Pesan khusus buat yang punya screenshoot blog diatas, keknya anaconda membuat perut dan juga blognya makin berat. wkwkwkw

Read More......