Kamis, 17 Maret 2016

Pindah Rumah

Blog ini udah lama banget, sejak masih jadi blogger magabut, beralih ke blogger matre dan akhirnya haitus lama.

Kemudian setelah saya mulai memasuki dunia baru, isi blog ini rasanya nggak nyaman untuk diteruskan. Saya sih nggak punya planning pasti, tetapi saya butuh blog baru khusus untuk dunia tulis menulis. Dan mengingat url blog mocca-chi.blogspot.com ini juga sudah mend-disable-kan sedikitnya 3 akun Adsense, akhirnya saya akan pindah ke blog baru. So tetep ya matre hahahhaa

Oke, teman-teman yang berkunjung ke sini. Saya pindah ke URL baru.

Meet me in http://www.suarcani.com/ ya.  See You ^ ^


Rabu, 02 Maret 2016

Gramedia Writing Project

Adakah yang minat ikut komunits menulis plus punya peluang agar tulisannya diterbitkan di Gramedia Putaka Utama aka GPU? Yap, cobalah join di Gramedia Writing Project.

Berdasarkan pengumuman resmi dari penerbit GPU, cara mengirim naskah memang sudah tidak hanya terbatas pada jalur umum (pengiriman print out lewat pos saja), tapi kini juga lewat jalur email dan GWP ini. Bagi yang ingin lihat lebih lanjut, bisa deh tengok pengumuman di akun Tumblr resmi GPU.

Nah, khusus untuk jalur GWP ini, kamu cuma perlu unggah sebagian naskah disertai dengan sinopsis (bukan sinopsis lengkap ya). Editor GPU akan melakukan cek secara berkala terhadap naskah masuk sesuai dengan genre atau kagetorinya.

Untuk lebih efektifnya, habis posting di GWP, kamu bisa mention beberapa editor di twitter untuk minta saran. Follow juga akun twitter GWP_ID karena Admin kadang ngeRT editor-editor yang sedang 'ronda' di website resminya GWP, jika sudah begitu kamu bisa mention link naskah kamu untuk dikunjungi.

Selain itu, karena ini komunitas tentunya kamu akan menemukan banyak sekali tulisan-tulisan dari penulis lain. Kamu bisa membaca dan juga memberi komentar dan juga sebaliknya.

Saya juga punya akun di sana. Bagi yang ingin lihat tulisan-tulisan terbaru saya, bisa kok cek di http://gwp.co.id/author/alhzeta/ (tapi cuma tersisa satu tulisan, lainnya sudah dihapus).




Kamis, 11 Februari 2016

Satu Mata Panah pada Kompas yang Buta (Novel)

SEGERA TERBIT








Kompasmu, apakah kamu memperhatikannya? Ada dua arah di sana. Utara dan selatan. Sama halnya seperti matamu sendiri, arah itu menyelamatkanmu dari kesesatan.

Tapi kompas milikku buta. Tidak ada utara selatan dalam hidupku, semua hanyut dalam ketakutan dan masa lalu. Lima belas tahun penjara mencuri jarum kompasku dan setelah bebas, aku pun masih belum tahu ke mana arah hidupku.


Aku pembunuh, korban hasrat yang menyimpang. Dunia luar menungguku, berpura-pura menyambutku dengan semarak, untuk kemudian kembali meremukkanku dalam ketakutan.

Aku butuh jalan, butuh mata kompasku. Apakah kamu bisa membantuku menemukannya?

Aku Ravit, bekas tahanan yang kini kembali terpenjara rasa takut.
 


Pada kisah ini kamu akan bertemu dengan Ravit, seorang narapidana yang baru saja keluar dari penjara. Dia sudah kehilangan banyak hal, kebahagiaan, orang-orang yang disayang serta kesempatan untuk merasa dirindukan. Dunia luar hanya memberinya masa lalu yang mengerikan, dan ketika waktunya untuk bebas, dia malah merasa takut.

Aku hanya merasa tidak nyaman karena seseorang begitu bergembira dengan kebebasanku, sementara diriku sendiri masih bertanya-tanya, apakah kebebasan ini memang sebuah berita gembira dan awal yang baik untuk masa depanku.

Iyap, seperti tema dari lomba Way Back Home, novel ini memang tentang pencarian jati diri untuk kembali bisa melangkah menjalani kehidupan.

Genrenya sendiri mix antara drama dan spiritual travelling. Jadi jika kamu bosan dengan bacaan tentang cinta-cintaan yang endingnya hanya putus atau jadian, buku ini bisa dijadikan alternatif. Atau lebih suka bacaan yang ada cinta-cintaannya juga? Tenang, Novel ini memiliki unsur romance juga kok walau dalam porsi yang kecil.

Pre Order untuk novel ini sendiri sudah dibuka. Harga normalnya Rp 65.000 tapi diskon 25% jadi Rp 48. 750. Cara PO-nya bisa dilihat di gambar ini:



Minggu, 07 Februari 2016

Lomba Menulis Way Back Home

Tahun lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah lomba penulisan novel yang diselenggarakan oleh sebuah penerbit baru, Jendela O Publishing House, yang lebih dikenal dengan sebutan JOPH.  Lomba ini bertemakan Way Back Home dan ingin mengangkat kisah-kisah tentang pencarian jati diri baik dalam hal cinta, kehidupan, passion dan sebagainya.

Saya menemukan informasi tentang lomba ini dari sebuah komunitas di Goodreads, dan kebetulan saat itu juga sedang menulis naskah dengan tema sejenis. Entahlah, mungkin memang sudah jodohnya naskah ini akan masuk ke lomba itu. Walaupun awalnya saya sempat bingung karena sejak dimulai nulis Juli 2015 silam, naskah ini diperuntukan ke penerbit lain.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya ikutkan naskah yang saya kasih judul "Prisoner of the Past" ini ke lomba yang dimaksud ke atas. Pengirimannya sekitar pertengahan September, setelah lelah edit sana edit sini. Singkat kata saya nekat, dengan asumsi jika pun naskah ini tidak menang, toh pengumumannya cepat yaitu sekitar pertengahan November. Saya masih bisa mengalihkan naskah ini ke tujuan awal.

Mendekati tanggal pengumuman, jujur saya resah. Berulangkali saya menekankan pada diri sendiri, bahwa naskah saya mungkin tidak akan masuk kualifikasi. Bukannya pesimis, tapi saya tidak ingin berharap terlalu banyak, mengingat sekian naskah saya yang pernah masuk ke meja penerbit akhirnya dikembalikan utuh.

Tanggal 15 November, waktunya pengumuman pemenang. Namun admin JOPH sengaja menunda-nunda sampai malam, demi membuat para peserta jengkel dan gemas. Saya sendiri sebenarnya sudah pasrah, bermaksud tidak akan melihat  pengumuman itu karena tahu, jika naskah lolos maka akan ada notifikasi via email.

Mendekati pukul 7 (pengumumannya dikeluarkan tepat jam 7 WIB), usaha saya untuk menggilas harapan menang itu makin kuat. Saya katakan pada diri sendiri bahwa 'tidak, tidak, tidak mungkin menang'.

Aneh kan, ketika peserta lain mungkin merepetisi doa 'saya pasti menang', saya malah membatin sebaliknya. Tapi sumpah, ini cara paling ampuh untuk mencegah rasa kecewa. Apalagi beberapa waktu lalu, admin JOPH sempat meretweet satu tweet saya. Makinlah saya gede rasa. Karena itulah, saat pengumaman saya berusaha sekali untuk menekan pengharapan itu.

Biasalah, pengharapan yang berlebih kan memang rawan akan kekecewaan. Pas harapannya meleset, sakitnya itu nggak nahan. (halah).

Jam 7 WIB saya menjauh dari ponsel. Berusaha untuk tenang dan tidak berharap. Tidak buka twitter, tidak buka website JOPH. Berusaha untuk mengabaikannya.

Namun tiba-tiba, ada satu notifikasi yang masuk ke ponsel. Email masuk, tanpa perlu saya buka, terlihat bahwa pengirimnya adalah email yang saya kirimi naskah September lalu.

Pesan apa kira-kira? Apalagi kalau bukan pemberitahuan pemenang lomba. Yes, naskah saya menang! Yes!

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, pemenang ke berapa?

Baru pada saat itulah saya membuka website JOPH, saya begitu tercengang ketika menemukan bahwa.....







Yap, menjadi juara pertama dari 137 naskah. Yah.... begitulah.

Naskah ini sendiri sekarang dalam proses lay out, rencananya akan terbit bulan ini, Februari 2016.

Yey, si enchi punya buku juga. Akhirnya, setelah sekian tahun. Yey.....


Jumat, 22 Januari 2016

What If by Morra Quatro - Book Review

Kata pertama untuk novel ini adalah... saya suka bagaimana Morra memulai ceritanya.

Setahu Kamila, Ada cara mengintimidasi yang hampir selalu efektif, terutama untuk membuat orang bicara, yaitu diam.

Sungguh, saya terdiam sesaat setelah membaca kalimat pertama. Kalimat-kalimat seterusnya sama, begitu membius dan membuat saya terpana.Bagaimana cara Morra menulis, itu membuat saya sayang melego buku ini. Kosakatanya kaya, jarang ada repetisi kata, pilihan diksi yang cantik dan juga kalimat-kalimat yang menunjukan kecerdasan sang penulis.



Saya sudah menyukai karya Morra yang pertama, Forgiven, yang menurut saja jenius sekali. Hanya saja untuk novel What If ini, secara plot tidak sebrilian Forgiven. Tentang perbedaan agama yang dipadukan dengan kisruh politik ala universitas yang sesungguhnya bagi saya tidak nyambung dengan konflik utama novel.

Mungkin ini soal selera saja sih, ceritanya tidak begitu memikat. Mungkin karena sudah biasa ya, jadi bagaimana pun Morra mengemasnya, tetap saja tidak menghadirkan kesan khusus. Ada beberapa konflik yang seharusnya menjadi puncak, namun ternyata jenisnya tidak begitu tajam jadi penyelesaiannya terkesan dipaksakan (ketika Kamila dan Fin menyusup untuk mencuri salinan tugas milik Jupiter).

Tetapi saya sungguh menikmati jalinan kata di novel ini, tertawa oleh dialog-dialog cerdas Jupiter dan kadang bertanya-tanya dengan maksud dari beberapa kalimat yang ternyata mengandung arti khusus.

Dan yang terutama, kovernya. Mungkin karena saya suka ungu, jadinya cantik banget. Walau saya bertanya-tanya, apa hubungannya stoples di gambar dengan konflik utama (oke, yang ini lewatkan).



Senin, 04 Januari 2016

New Year's Gift

Alamak, lama banget blog ini tidak diupdate. Sudah penuh dengan sarang laba-laba. Hus! Hus Hus! *ngambil sapu lidi.

Posting tahun 2015 kemarin juga cuma satu artikel. Hei hei hei, kemana kau perginya nih yang punya blog?

Yang punya blog masih di sini, kok. Masih setia dengan internet dan komputer, hanya saja kerjaannya beda. Tahun 2015 kemarin ini saya benar-benar fokus menulis, sampai-sampai lupa untuk sekedar posting sesuatu di blog ini. Tahun  yang sangat produktif, tahun yang dipenuhi oleh gejolak rasa jengah. Entah berapa naskah, yang dibuat sampai tengah malam kemudian lanjut lagi sambil curi-curi jam kerja. Naskah yang dibuat dengan mengabaikan kesehatan dan jerawat yang tidak kunjung pergi.  Hahah.. yang terakhir lebai, jerawatnya bukan karena nulis, namun karena hormon. *ups

Dan, sungguh, Tuhan memang tidak pernah diam. Ada sambutan atas asa yang kita semai setiap napas. Saya tidak tahu apakah karena kerja keras, atau karena doanya yang tidak putus-putus sampai Tuhan capek dengarnya. Yang jelas, salah satu mimpi terbesar saya akan terwujud di tahun 2016 ini (nyengir lebar sekali).

Udah selesai spoilernya? Hahaha.... iyap, yang jelas, inilah salah satu kado tahun baru terindah yang pernah saya dapat.

apa pun itu, yang jelas saya merasa kerja keras saya sudah terbayar. dan, ini bukan akhir, melainkan sebuah permulaan.

Happy new year everybody












This entry was posted in

Senin, 12 Januari 2015

Walking After You by Windry Ramadhina - Book Review

Tumben, tergerak hati untuk membeli sebuah buku. Belakangan memang selalu ingin mampir ke toko buku, namun kadang sampai sana hanya tertegun, bingung mau ngapain. Mau beli buku, shock duluan lihat harganya.

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membeli Gelombang, hanya saja teringat kalau akan mendapat pinjaman. Maka pilihan sampai pada novel ini. Jujur, penulisnya menjanjikan. Saya pernah baca karya Windry Rahmadhina ini yang berjudul Orange, dan teknik penulisannya keren. Begitu pula excerpt yang dipostingnya di blog, semakin saya penasaran seperti apakah kisahnya An.

dan yeah, Gagasmedia memang pintar sekali membuat tag line sebuah novel sehingga membuat penasaran. Tentang seseorang yang masih terbelenggu masa lalu. Secara umum saya suka novel ini dan tidak rugi benar membelinya. Berbeda dengan novel-novel yang hanya bagus di judul, namun secara penulisan membuat bosan di tengah-tengah, novel ini membuat saya membacanya hingga akhir secara tuntas.

Oke, kelebihan yang saya kagumi dari novel ini adalah penokohannya yang benar-benar nyata. Karakter An dan Ju, ah, saya menyukainya. Banyak kejutan yang datang dari dialog-dialog mereka, yang mencerminkan kedalaman pengenalan si penulis terhadap tokoh rekaannya. Keduanya serasa hidup dan menjadi daya tarik tersendiri dari kisah ini.

Teknik penulisannya, banyak ditemukan kosakata baru dan menginspirasi. Selain itu ada pula kata ganti yang khas yang diulang-ulang. Salah satunya adalah kata ganti orang ketiga berupa 'lawan bicaranya'. Kosakata ini juga banyak digunakan di excerpt novel penulis yang lain (ketahuan selama ini cuman mengintai blognya, enggak mampu beli bukunya hahahhaha). Mungkin karena belum terbiasa ya, jadi agak mengganjal saat bacanya.

Dari Novel ini saya belajar satu hal, tidak harus membuat konflik yang pelik untuk sebuah keindahan, cukup menghadirkan suasana yang benar-benar nyata. Saya yakin, jika toko kue Afternoon Tea itu benar-benar ada di Bintaro, maka sekarang akan jadi ramai. Publisitas gratis dari novel ini mampu menghadirkan rasa penasaran tersendiri.

Teknik penuturannya yang mengeluarkan misteri sedikit demi sedikit tentang Arlet, membuat pembaca ketagihan. Walau konfliknya sederhana, keseharian banget, namun penyampaiannya tepat mampu membuat pembaca ingin terus baca dan baca.

Tetapi yang membuat saya agak terganggu adalah tokoh si Gadis Pembawa Hujan yang hmm.. terlalu imajinatif banget. Kok kesannya dipaksakan ada agar mampu menyelesaikan konflik batinnya An. Walau konsep yang diusung 'hujan lokal yang sendu' benar-benar mampu jadi magnet bagi buku ini.

Ah, hanya itu yang bisa diulas. Maklum, ilmu reviewnya masih cetek. Baru hanya bisa menyentuh permukaannya saja.

Secara umum, buku ini saya katakan Bagus.