Kamis, 05 November 2009

Duta Poligami (Part 1)

Masih diambil dari Note Facebook yang sama dengan Duta anti emansipasi. Kali ini disertai link blog yang bersangkutan, maklum sebelumnya ada sesuatu disana yang awalnya membuatku emoh ngelink dia, tapi setelah direvisi akhirnya aku ngasi backlink gratis juga ke dia *bayar*

********

POLIGAMI
Wednesday, September 23, 2009 at 4:52pm


Hmm... sebuah topik yang ga pernah ada matinya buat dibahas terutama sama para ibu-ibu dengan tingkat keparnoan diatas ambang batas normal *piss ibu*.

Setelah mem-publish tulisan ini pasti saya akan (lagi-lagi) diserang, didemo bahkan dimusuhi olah sebagian besar kaum wanita yang membacanya, sebuah nilai yang selalu harus saya terima setiap kali mengemukakan pendapat saya tentang hal ini di muka publik. it's ok, karena buat saya kebenaran itu tidak selalu harus mendapatkan penerimaan yang baik.

Setelah hampir 31 tahun berinteraksi dengan topik tersebut melalui pasang surut pemahaman dan kemengertian (halah naha asa lebay gini yah bahasanya huehehe), akhirnya saya tiba pada sebuah pemaknaan bahwa poligami bukanlah sebuah situasi dan kondisi yang perlu untuk ditakuti secara berlebihan oleh kaum wanita. Seandainya saja para perempuan mau belajar lebih banyak tentang apa dan bagaimana poligami yang sesuai ketentuan Allah, tentu saja akan ada kelegaan tersendiri karena dilahirkan sebagai seorang perempuan yang tidak ditakdirkan berpoliandri dan betapa sesungguhnya Allah sangat menyayangi perempuan dengan tawaran poligami tersebut.

Dari banyak hasil diskusi dan perbincangan saya dengan beberapa teman, kerabat dan sahabat-sahabat perempuan saya, hampir sebagian besar menentang dan menolak konsep poligami, alasan yang sering dikemukakan adalah ketakutan akan ketidakadilan yang akan mereka dapatkan baik secara moril ataupun materil.

Beberapa diantaranya berujar," bagaimana bisa adil ? apakah mungkin seorang manusia bersikap adil sedangkan hatinya harus berbagi ?"

Ukuran keadilan disini bukan dengan takaran manusia melainkan ukuran keadilan Allah, materi bisa diukur secara matematis untuk mencapai kesepahaman adil tetapi tidak dengan urusan hati maka dari itu biarkanlah Allah yang menilai kadar keadilan itu dengan cara-Nya karena kita sebagai manusia hanya perlu ikhlas dan menjalankan peranan kita sebaik-baiknya.

Saya tidak sekalipun bermaksud menganjurkan apalagi berencana untuk menjadi salah satu eksekutor poligami, karena bagaimanapun pilihan ini tetap memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang berat untuk dilaksanakan dengan baik dan benar oleh siapapun yang terlibat di dalamnya. Tetapi ketika pada perjalanan kehidupan kita dihadapkan pada situasi yang menawarkan poligami sebagai solusinya, kenapa kita harus berkeras dengan keengganan kita hanya karena takut diperlakukan tidak adil.

Saudara perempuanku, bukan sekali dua kali saya dikeluhi karena kalian merasa kerepotan mengurus anak-anak yang tumbuh semakin besar dengan konfliknya masing-masing yang membuat kepala kalian seperti mau pecah. Belum lagi keluhan kalian yang merasa waktu kalian habis hanya untuk mengurusi suami-suami yang rewel melebihi kerewelan anak-anak yang mau membuat kepala seperti mau pecah itu. Lalu kalian berkesah, kapan kalian bisa memiliki sedikit saja waktu buat diri kalian sendiri... membahagiakan diri kalian sendiri... menyamankan diri kalian sendiri.... banyak cara yang saya sarankan pun selalu tidak pernah cukup beralasan untuk memberi kalian sedikit ruang yang kalian harapkan itu karena lagi-lagi anak-anak dan suami seolah menjadi penghalang bagi kemerdekaan batin kalian. dan yang lebih sering membuat saya stres memikirkan kesetresan kalian adalah ketika suami-suami kalian menjadi sedikit lebih tua dan sakit-sakitan, duuuuh rasanya ga habis-habisnya kalian mengeluh bahwa kalian lah yang paling menderita dengan situasi tersebut dimana harus mengurus seorang pasien rs yang rewel plus direcoki urusan anak-anak yang ga perbah ada habisnya.

Mari kita lihat betapa keluhan kalian itu tidak perlu lagi terlalu sering menyiksa kalian (terkecuali kalo kalian memang hobby mengeluh) jika saja kalian mau berbagi, biarkan partner istri kedua suamimu mengurusi salah satu diantara kerepotanmu... anak-anak atau suami kalian bersama, atau lebih akan membuat hidup kalian santai jika ada 2 partner yang membantu kalian, yang satu mengurus anak-anak, yang satu mengurusi sang raja dan kalian bisa memilih untuk menjadi direktur keuangan yang bisa ongkang-ongkang dan menikmati waktu kalian dengan lebih efektif sesuai ukuran yang kalian inginkan. Tapi tentu saja harus ada bagian lain yang juga harus dikorbankan untuk waktu yang kalian nikmati itu, kalian harus mau berbagi materi dan hati tentu saja. ini yang sering jadi masalah, tidak mau repot dan tidak mau berbagi... come on, jangan jadi serakah dengan apa yang ingin kalian nikmati di dunia ini... semuanya fana... sementara saja...

Bayangkan jika kalian mau berbagi dengan ikhlas, kebahagiaan duniawi dan akhirat insya allah akan kalian nikmati... memang sulit membayangkan kengerian diperlakukan tidak adil oleh orang yang paling kita cintai, tapi percayalah Allah memiliki imbalan yang pantas jikapun ketidakadilan itu harus ditimpakan pada kita. dan jika kita percaya pada kebenaran dan kekuatan Allah, sesungguhnya tak ada satupun yang harus kita takuti apalagi hanya sebuah ketidakadilan... karena Allah yang akan menyelesaikannya...

Baiklah, sekarang saya siap dimaki, dicemooh bahkan mungkin disumpahi saudara-saudara perempuan saya... tapi sekali lagi saya nyatakan bahwa ketidaksetujuan saya terhadap penolakan kehidupan berpoligami bukan berarti saya akan menjadi bagian atau berencana untuk menjadi salah satu pelakonnya.. saya hanya ingin saudara-saudara perempuan saya yang sudah merasa tidak sanggup menjalankan tugas, kewajiban dan peranannya sebagai seorang ibu rumah tangga seorang diri saja untuk membuka diri terhadap penawaran Allah yang sangat menguntungkan tersebut daripada hanya berdiam diri dan terus-menerus mengeluh serta melakukan peran kalian dengan ketidakikhlasan. Maka mubadjirlah apa yang kalian lakukan dengan keluhan dan ketidakikhlasan tersebut...

selamat sore saudara-saudara perempuan sholehahku, semoga kita akan menjadi bidadari-bidadari penghuni surga, amin ya rabbal allamin

*siap-siap didemo, diserang, dimusuhin*.
*****


Aku memanggilnya Teh Echi, kadang teteh cantik (kalau lagi ada mau), lebih sering dudud. Kenapa? Karena kami banyak persamaan, terutama nongkrongin pantai kuta sampe tengah malam dan sampai-sampai aku malu sama mamahnya dan nabil kalau menjemputnya ke rumah. Tempat Favorit kami adalah pante kuta, beach on back of centro, nasi pedes, soto ceker tuban dan mie ayam diponegoro. But, hmm.. secara global dia orangnya susah ditebak, termasuk tentang note ini.

Ga tau bagaimana cara berpikir dia, yang jelas untuk note ini dia emang agak kurang waras (mengutip kata penulis sendiri). Ada yang menyebutnya wanita jaman purbakala karena pemikirannya malah kembali ke masa lalu, ke masa sebelum R.A Kartini lahir *lebay*.

Stop menghinanya *kalau ga mau dijitak berlebihan*

Pendapatku: AKU GA SETUJU POLIGAMI, titik.

Tetapi tidak ada salahnya sih membaca alur pemikiran orang aneh ini, karena bagaimanapun beliau sudah menempuh batang usia dan pengalaman yang lebih daripada aku. Cheers, teh. menunggu Part II mu

N.B, kalau ada film ttg ini suatu saat nanti, hampir delapan puluh persen pemainnya adalah dia. wkwkwkkw

34 komentar:

  1. pokoke aku ga setuju poligami!!! hohohoho.... :D

    BalasHapus
  2. weleehhh... petromaxxxx toohh... tumbeeenn amiittt.... aye..aye... *joget-joget*

    BalasHapus
  3. aku juga GAK SETUJU POLIGAMI. Titik juga deh. Hidup poliandri. AKU GAK MAU DIMADU. hiks...hiks...hahahah...nangis bombay.

    BalasHapus
  4. Aku cuma mau bilang, aku bukan anti poligami. Bagi yang sanggup melaksanakannya, aku salut. Tapi, aku pribadi memilih, aku hanya untuk suamiku & suamiku hanya untuk aku.

    BalasHapus
  5. Pologami ....
    Sebuah topik yang ngak bakal habis2nya.
    Mau nanya nech :
    Apakah satu-satunya ukuran kesetiaan adalah bermonogami ?.
    Siapa yang buat itu ukuran dan apa kriterianya ?.

    BalasHapus
  6. aku nggak setuju poligami.

    BalasHapus
  7. Aku juga nggaksetuju poligami,...
    kecuali kepepet, atau......
    ada yang mau....
    kuabuuuurrrr.....

    BalasHapus
  8. untung sudah ada cowok yang komen, jadi aku ga di lirik dengan gholok di tangan hahahaha...

    sekarang komenku agak serius bahasannya...

    ukey kita mulai:

    nnngg..... *mikir-mikir*
    nnnggg.... *pusing*
    nnngg... *clingak-clinguk*
    nnngg... no komen!!

    BalasHapus
  9. @ Mas kabasaran, ngg... puyeng aku ditanyain bgini, dan dari versi sempitku, monogami mempunyai arti yang lebih dari sekedar kesetiaan.

    ut versi lebar,biar yg punya note yg jawab. *ampun*

    BalasHapus
  10. gpp kok chi, artinya kamu pada garis penganut paham poligami bukan pelaku poligami...eh, ternyata diujung pendapat kamu: ga setuju juga...horeee!hihi

    BalasHapus
  11. hmm.... nice posting :p
    gini, aku amat sangat menghargai pilihan untuk bermonogami seperti juga saya menghargai pilihan orang-orang yg ingin berpoligami dan sekali lagi tulisan ini aku buat bukan karena aku berniat, bermaksud atau ingin menjadi salah satu pelakon poligami..
    sejujurnya tulisan ini saya buat sbg salah satu peningkatan pemahaman saya terhadap ayat2 Tuhan yang diajarkan dalam agama saya :)

    secara manusiawi, pastinya ga waras kalo ada orang yang mau berbagi apalagi untuk sesuatu yang kita cintai. begitu juga saya... tentu saja saya sangat mengharapkan jalan hidup saya akan lurus2 saja sesuai asas kewajaran.

    tapi seiring pembelajaran saya pada hidup, ayat-ayat suci al-quran dan juga kehidupan secara keseluruhan maka kemengertian saya muncul akan maksud baik yang Allah sertakan dalam ajaran poligami ini. dan sekali lagi ini memang memerlukan pemahaman penuh atas ajaran-NYA karena tidak semena-mena dan semudah melihatnya secara kasat mata...

    so, sekali lagi saya mau bilang... kalaupun saya menjadi kurang waras atau bahkan tidak waras dengan pemahaman saya ini, maka biarkanlah itu sbg bentuk ketaatan saya pada Tuhan saya hehe...
    saya cuma ingin masyarakat terutama kaum wanita bisa lebih bijak lagi melihat substansi poligami, karena sesungguhnya ini adalah kemudahan yang Allah buat untuk kaum perempuan dan sesungguhnya saya amat sangat yakin bahwa tidak ada satu hal pun yang tuhan ciptakan untuk sia-sia....


    @kabasaran : menjadi tidak setia itu bukannya ketika seseorang berpoligami yang berarti msh tetap setia pada komitmen pada pernikahan sebelumnya dg tetap dipertahankannya, jadi buat saya ukuran kesetiaan itu bukan bermonogami tapi pada komitmen yang sudah disepakati bersama..

    kesetiaan yang identik dg bermonogami adalah aturan yg dibuat oleh peradaban manusia, dan bagi saya aturan Tuhan adalah yang benar melebihi aturan manusia manapun *piss*

    @mocca_chi : thanks for our Togetherness

    BalasHapus
  12. @ teh echi, hope it will be held for a long times, at least forever :P

    BalasHapus
  13. *Duh.. dalem banget yak?
    POligami??
    Kalo pacaran di duakan sudikah Anda?
    Kalo jawabannya iya - mungkin bisa nerima poligami. :)

    Kalo saya pribadi.. ga mau ah.
    Karena belum ada wanita yg poliandri. Jadinya tidak seimbang kalo pemenangnya kaum pria..
    (halah, komennya berat juga!!!) XD

    BalasHapus
  14. Saya sih setuju poligami
    Setuju kan tidak harus menjalankan
    kan harus siap dari sisi materi, siap dari sisi fisik dan siap dari sisi mental

    Kalau adil yaa kan ukurannya bukan apa yang ada di hati, tapi ada kejelasan jadwal, kejelasan pembagian nafkah dll

    Daripada wanita/laki-laki jadi korban ketidak jelasan status, kan mending jelas poligami saja

    BalasHapus
  15. Waduh...dari dulu poligami selalu jadi polemik ya. Pada akhirnya sih kembali pd masing2 individu deh. Kalo aku pribadi memang ga setuju poligami.

    BalasHapus
  16. Bagaimanakah pendapat saya?
    Hmmm...*mikir2..

    BalasHapus
  17. poligami, buat saya adalah salah satu solusi rumah tangga "yang bermasalah". Saya sih ga nolak konsep poligami, tapi memilih untuk tidak menjalaninya.

    Kayak orang makan jengkol aja, saya mending ga makan jengkol karena ga suka, tapi banyak orang yg suka makan jengkol. Tapi bukan berarti makan jengkol itu dilarang kan.. hehehe (persamaannya ga banget ya)

    BalasHapus
  18. hmmm... bingung juga ya. kalo kata aku tergantung alasannya dulu. logis gak si suami minta berpoligami..? kalo iya ada alasan yg memang gak mungkin bisa d hindari, yasud, terima saja..

    tapi tetep aja intinya, AKU GA SETUJU SAMA POLIGAMI -_-;

    BalasHapus
  19. daripada selingkuh, mending poligami.

    tapi, saya tetep tidak mau dipoligami. mungkin saya memang egois. tak apalah.

    BalasHapus
  20. kalo perempuan umumnya tidak setuju kalo laki umumnya setuju yah nggak bisa koment deh kalo masalah ini

    BalasHapus
  21. No comment tentang poligami...

    Saya lebih baik mempunyai 1 orang saya daripada perpoligami..

    Kita umpamakan
    1 Hati
    1 Jantung
    1. Jiwa
    1. Hati
    1. pPerut
    1 Hidung, dst

    BalasHapus
  22. Duh..mbak, poligami kayaknya ribet banget deh...
    Bakal banyak pengeluaran, biaya hidup besar banget....
    Cuma....
    Ah..au ah :D

    BalasHapus
  23. aku setuju poligami... hihihihihi tapi sebelum merit... maksudnya dobel2 pacar atau selingkuhan,.... kalo udah merit ya teteteeeep... walau digubuk derita dan makan sepiring berdua satu istri teteeeeep....

    BalasHapus
  24. Intinya ya ikhlas dalam menjalani segala hal yg dihadapi
    ikhlas berpoligami, silakan saja, dihormarti dan dihargai pendapat serta keputusannya yg demikian. kalo gak ikhlas ya ndak papa juga menyatakan diri anti poligami

    BalasHapus
  25. gyaaaaa.........udah banyak yang koment ni!!?!?!

    kalo menurut saya yang notabene pria tulen.....poligami sangat erat kaitannya dengan pernikahan....buat saya, pernikahan arus didasarkan pada cinta, dan cinta harus "egois", karena tidak akan dibagi pada siapapun, jadi intinya saya tidak mendukung poligami......PISS LUV!!

    BalasHapus
  26. kalau bicara poligami bukan bicara tentang setuju atau tidak, karena menyangkut "keyakinan" yg merupakan hak seorang. Artinya yang gak setuju silakan, yang setuju ya silakan....jangan sampai saling menghujat dan merasa paling bener sendiri dengan pendapatnya....:)

    BalasHapus
  27. wahhh...panjang amat nchii...

    BalasHapus
  28. aku gak mau di poligami ...

    BalasHapus
  29. apalagi di poliyandri ...

    BalasHapus
  30. akumaunya poliphonic atau mp3 ...
    poliklinik juga boleh xixixixi

    BalasHapus
  31. *serius
    hidup itu pilihan ... ada sebagian rela dipoligami dengan segala resikonya , bukan karena duitnya , bukan karena statusnya , hanya karena dia sudah memilih untuk mau dipoligami ...

    BalasHapus
  32. http://etikush.blogspot.com/2009/03/aq-ingindipoligami.html

    BalasHapus

About