Senin, 09 November 2009

Masih Ada Hari Esok Untuk Bunuh Diri

Entah apa yang dilakukan burung-burung gagak itu di atas sana. Mereka, sekawanan dengan jumlah entah berapa, satu persatu datang dan bertengger di atas pohon mahoni yang tumbuh di sebelah kiri tempatku berpijak. Mereka berkoak-koak, saling toleh satu per satu dengan gerakan lincah dan agresif. Kemudian salah satu diantara mereka berterbangan, membuat dahan pohon yang diitnggalkan terlontar karena beban yang berkurang, dan akhirnya gerakan spontan itu membuat gagak-gagak lainnya di dahan yang sama ikut terbang.

Tumbuhan semerbak disekitar sini, satu-satunya hanyalah bunga kembang bangkai yang tumbuh menjelang musim hujan. Dan sekarang bulan November, memasuk musim penghujan yang berubah fungsi menjadi musim pancaroba. Tetapi November tetap November, saat hujan menyerbu bumi dan membuatku bisa menyembunyikan air mata yang jatuh berlinangan.

Burung-burung gagak itu semakin agresif melihatku. Pandangan mereka awas, walau gerakan kepala mereka sangat lincah dan hampir-hampir tidak bisa diam, namun aku tahu mereka mengawasiku, menungguku untuk segera memandang mereka dengan tatapan kosong.

Tapi mereka bukan aku. Dari sudut pandang mereka, aku adalah sebuah berkah yang akan membuat mereka bertahan hidup. Tetapi manusia seperti aku menganggap mereka sebaliknya. adakah orang bermimpi burung gagak dan terbangun dengan riang gembira keesokan harinya?


Tidak ada, tidak ada yang gembira. Begitu juga aku. Aku tidak bermimpi tentang burung gagak semalam, aku juga tidak bermimpi tentang peti mati. Namun Oktober kemarin, aku bermimpi tentang sebuah pigura, dimana aku melihatmu menjalani hari-harimu disana. Aku melihatmu sakit, aku melihatmu tidur dan aku melihatmu bersamanya.
Tahukah kamu, bagaimana rasanya ketika aku mengintip ke dalam pigura itu, dimana aku berharap kamu melihatku disini tengah menatapmu penuh harap, namun jangankan melihat, tahu aku ada pun tidak.

Aku tahu itu hanyalah sebuah mimpi, seperti saat aku melihat burung-burung gagak ini sekarang. Namun aku lebih tahu, bahwa akibat mimpi itu senyata aku melihat burung-burung gagak itu sekarang. Dan jika kamu tidak tahu, bisa kamu bayangkan bagaimana kalau kamu sedang duduk di atas sebuah batang pohon yang sudah mati dengan segerombolan burung gagak hinggap di sekitarmu?

Aku tidak memintamu melihat sekarang, seperti aku tidak akan memintamu memindahkan bulan November ke awal tahun. Pigura itu hanya mimpi, seperti juga mimpiku beberapa hari yang lalu, dimana tergesa aku mendekat pada sebuah meja di bandara, tempat kamu duduk menungguku dengan ransel kempis.

Burung-burung gagak itu semakin lincah. Suaranya hingar bingar seperti pasar, seperti suporter sepakbola yang menyemangatiku untuk hari ini. Aura mereka semakin kental, merasuk ke telingaku, mengalir di cairan dekat rumah siput, menjalar ke sel-sel saraf menuju otak. Gerak refleks menyambarnya sebelum sampai dan membawanya cepat ke otot tangan.

Masih ada hari esok untuk bunuh diri, tapi aku tidak mau menunggu besok. Hari ini atau besok sama saja, mimpi itu sudah datang.

Burung-burung gagak itu berkoar-koar ketika nadiku putus dan darahku telah mengalir, mereka tidak perlu menunggu aku sekarat untuk segera terjun ke sekelilingku.

Hujan menderu dan Malaikat Neraka sudah menungguku dengan tidak sadar di salah satu kursinya di alam neraka lapis keseratus.
This entry was posted in

31 komentar:

  1. Izin mengamankan yang pertama dulu

    BalasHapus
  2. Baru ngeliat burung gagaknya saja udah serem...

    BalasHapus
  3. Saya seperti membaca kisah nyata seorang psikopat.

    mantep banget chi...
    kisahnya untuk siapa lagi nih?

    BalasHapus
  4. hmm... mengamankan tempat ke tiga dulu huehuehuehue

    BalasHapus
  5. ceritanya serem dan aku tau artinya.... *kayaknya*

    BalasHapus
  6. artinya tetep tentang kematian dan pesimistis hohoho... *pletakk*

    BalasHapus
  7. mudah2an bukan kisah nyata hehe... bang iwan...apa kabar??? nanti kalo agus pulkam ke soppeng aku minta oleh2 ya sama pak yuliawan ahahaha...

    BalasHapus
  8. dasar nchii..ini kan yg kita chatting kemarin? hii..lagi2 bau kematian.

    BalasHapus
  9. iya nih.. horor banget! heran sama si enchi!
    Lagi gosip apa nich di Bali..
    Btw, kan aku sudah pernah bilang jegeg..
    neraka cuma lapis 18.. tenang.. Tuhan tidak sekejam itu dengan menciptakan lapisan ke 100!!!

    BalasHapus
  10. bagus sekali cerpen mu...
    penuh nilai2 kehidupan, walaupun disajikam dengan alur yang bengis...
    salam kenal...

    BalasHapus
  11. Jadi mati apa nggak ya? ato cuma sekarat.. hooo..

    BalasHapus
  12. hm...hm...hm hiiiii jadi atut nih!!!!!

    ceritanya syereemmmm!!! tentang kematian lagi ya?!?!?! nyeri nih ceritanya??????

    BalasHapus
  13. yah...kirain bakal ditunda bunuh dirinya

    BalasHapus
  14. setuju mbak...
    besok2 saja kita bunuh diri, ketika kita sudah mencapai puncak dari hidup;;

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. Waduuuuh, serem amat sih postingannya tentang bunuh diri... sesekali bikin postingan tentang betapa keren dan gantengnya gua aja. Pasti menghibur dan memotivasi positif semua orang! :D

    BalasHapus
  17. symbol burung gagak pas sekali dengan tema kematian, coba burung kakaktua atau kutilang bisa2 kesan gelap dan nanarnya pasti hilang hehehe, btw ceritanya sungguh menghanyutkan hingga terbawa, seakan dialami sendiri oleh orang yg membacanya. :)

    BalasHapus
  18. Postinga yang buat merinding badan... Apakah benar kalau bermimpi burung gagak tanda2 yang buruk?

    BalasHapus
  19. di bandung banyak banget atraksi bunuh diri,,,
    plizz jangan diikutin,,,,

    Hidup ini terlalu indah untuk ditinggalkan dengan cara kayak gitu

    haiii,,haiii..lama ga ke sini? apakabar?

    BalasHapus
  20. RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk
    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    BalasHapus
  21. haduhhh serem amat to chi critani *tung..tung..tung..amit-amit deh*
    jangan jadikan hidup sia-sia segampang itu, emangnya enak po bunuh diri gitu @_@

    BalasHapus
  22. hiii, judulnya ngeri.
    tapi di awal kisah aku nggak dapet rasa ngeri itu.

    BalasHapus
  23. Waduw...kok kayaknya dari kemarin ngomongnya soal bunuh diri too...
    Serem ah, ehhehe....

    BalasHapus
  24. Chi, lama2 ceritamu kok serem amat yak... kamu ke psikiater deh :P *pizzz*

    BalasHapus
  25. pagii...... mu kasih makan gagak -_-

    BalasHapus
  26. neraka ada lapisan ke 100 yah dudz???


    *baru baca akhirnya dulu*

    BalasHapus
  27. judul yang sangat keren, menarik pembaca untuk melanjutkan membaca seluruh isinya!
    saluT!!!!!!

    BalasHapus
  28. Hmmm, cuma manggut-manggut nih baca kisah yang beraroma kelabu, tersaput kelam.

    BalasHapus
  29. huwaaaaaaaaaaaaaaaaa gak rela kenapa kok di dashbor blogmu gak terlihat kalau udah apdet...... aq gak rela bukan aq yg jadi petramaxxxxxxxxxx

    BalasHapus
  30. Enchi teruskan buat cerita seperti ini nchi..... aq merasakan ada burung gagak disekelilingku...... xixixixi

    BalasHapus
  31. kukira yang berlapis itu kue lapis legit,ternyata neraka juga berlapis

    BalasHapus