Jumat, 30 Oktober 2009

Duta Anti Emansipasi

Diambil dari Note Facebook seorang teman, kakak dan sekaligus yang aku anggap guru atas 'ketidakberuntungan' yang ia alami belakangan ini. Sudah mendapat ijin mengcopasnya tanpa menyebut siapa dia dan dimana linknya. Jadi yang merasa punya note ini dilarang protes!
*******


Maafkan saya ibu R. A. Kartini
Sunday, October 11, 2009 at 10:58pm

Permohonan maaf ini mungkin bukan hanya pada ibu R. A. kartini saja pantas saya persembahkan, tetapi juga kepada wanita-wanita hebat di muka bumi terutama di negeri yang saya cintai ini. Tulisan ini hanya sebagian isi kepala yang ingin saya bagi sekedar untuk mengosongkan kesesakan kepala saya yang sudah hampir overload, jadi maaf bila ada yang merasa kurang berkenan.

Emansipasi, sebuah bentuk pengakuan atas hak dan martabat wanita di negeri ini yang begitu diagung-agungkan oleh kaum saya. Saya mohon maaf sebelumnya kalau saya TIDAK SETUJU dengan generalisasi emansipasi pada setiap aspek kehidupan.

Jika hanya untuk memperoleh hak mendapatkan pendidikan yang layak, saya pikir itu memang merupakan kewajiban bagi setiap manusia di muka bumi untuk meningkatkan kualitas diri tetapi tidak lantas mengaburkan maknanya menjadi sebuah bentuk pembuktian eksistensi diri.

Hmm.. gini, secara sederhana manusia dibagi menjadi perempuan dan laki-laki lengkap dengan aturan-aturannya yang mengikat dan dipatenkan melalui al-quran dan hadist. Emansipasi yang sekarang didewakan oleh banyak saudari-saudari saya adalah sebentuk pengingkaran atas aturan-aturan yang mengikat tersebut, itu pendapat saya pribadi.

Saya seringkali sedih melihat anak-anak di sekitar kehidupan saya yang terpaksa dibesarkan dalam asuhan baby sitter atau maidnya hanya karena sebuah alasan yang menyesakan, ibunya sibuk bekerja...

Ketika pilihan menjadi wanita karier dilakukan karena tuntutan sang pemimpin rumah tangga karena ketidaksanggupannya memenuhi kebutuhan mereka, saya masih bisa memahaminya sebagai sebuah bentuk pengabdian. Tapi ketika menjadi wanita karier dilakukan sebagai bentuk pembuktian eksistensi diri sebagai wanita yang hebat dan bisa disejajarkan dengan kaum pria, maka respek saya seketika akan habis. Karena bagi saya, seorang wanita hanya perlu membuktikan eksistensi dirinya dengan merawat, menjaga, memenuhi kebutuhan suami dan anak-anaknya dengan sebaik mungkin yang mereka mampu lakukan.

Maafkan untuk kebodohan saya dalam berpikir, dari kedangkalan ilmu yang saya miliki saya hanya merasa bahwa apa yang Tuhan takdirkan pada kaum saya sebagai perempuan adalah melebihi kehebatan apapun yang ditawarkan oleh sebentuk pengakuan emansipasi.

Bagaimana mungkin saya bisa merasa bangga menjadi seorang vice president di sebuah perusahaan yang multinasional yang bonafide jika anak-anak saya dibesarkan oleh seseorang yang semestinya hanya membantu saya mencucikan pakaian atau menyiapkan makanan ketika saya sibuk mendengarkan anak-anak saya berceloteh, bagaimana juga saya bisa merasa tenang menjadi bagian dari sebuah perusahaan asing yang bergengsi bila anak-anak saya dididik oleh seseorang yang sewajarnya saya ajarkan padanya bagaimana cara membersihkan rumah yang baik demi kesehatan anak-anak yang saya cintai, dan bagaimana pula saya bisa nyaman dengan jabatan yang saya peroleh karena gelar-gelar akademik saya jika anak-anak saya di rumah belajar dengan seseorang yang semestinya saya ajarkan bagaimana menghitung jumlah belanjaan dengan tepat..

Saya tidak bermaksud mengecilkan arti seorang pengasuh, baby sitter ataupun maid. Peranan mereka dalam membantu kegiatan operasional rumah tangga tentu saja akan sangat membantu, tetapi kurang tepat rasanya bila kita lantas menjadikan mereka tumpuan harapan untuk kelangsungan hidup anak-anak yang kita cintai. Anak-anak kita terlalu berharga hanya untuk sebentuk pengakuan menjadi bagian dari sebuah emansipasi.

Beberapa orang sahabat menyangkal, mereka menjadi wanita pekerja sebagai bentuk persiapan jika kelak suami mereka meninggalkan mereka entah karena kematian atau alasan lainnya. come on, ada banyak pilihan kegiatan yang menghasilkan jika memang hanya mempersiapkan diri untuk memperoleh materi sebagai tujuannya.. lagipula kenapa tidak percaya pada kekuatan Tuhan yang memerintahkan kita dengan aturan-aturan-Nya siyh ? bukankah Allah akan mencukupkan rejeki masing-masing dari kita jika kita senantiasa berada di jalan yang di tetapkan-Nya ?

singkat kata, saya mohon maaf jika saya terpaksa menjadi ANTI EMANSIPASI..
saya juga minta maaf jika pada kenyataannya cita-cita saya adalah hanya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa saja meskipun kelak saya memiliki gelar yang berbaris memenuhi rangkaian nama pendek saya, cukuplah ilmu itu saya baktikan dengan cara yang tidak perlu membuat saya menyesal dan merasa berdosa hanya karena menyia-nyiakan anugerah Tuhan menjadikan saya sebagai wanita.

Selamat malam teman-teman, maafkan jika kurang berkenan dengan kekurangwarasan saya kali ini..

********

Belakangan banyak peristiwa yang aku dan juga orang-orang alami, dan tentunya itu semakin membuat aku takut tentang sebuah kehilangan akan sesuatu yang bisa aku miliki dimasa depan. Bersamaan dengan itu, note ini pernah mengilhamiku untuk hanya menjadi seorang ibu rumah tangga pada nantinya. Seperti pada isinya, dimana adanya kesalahan persepsi tentang arti emansipasi yang sebenarnya, menurutku emansipasi pada prinsipnya untuk mensejajarkan diri, bukan mengungguli hingga mengabaikan prinsip kehidupan lain yang tidak kalah pentingnya, kewajiban sebagai seorang wanita.

Namun aku ingat, aku masih ada beberapa mimpi yang mungkin 'kurang' bisa terwujud seandainya aku menjadi ibu rumah tangga biasa. Selain juga karena malu jika nanti mau beli bedak saja harus menadahkan tangan, aku tetap pengen punya persewaan buku dan rumah di dekat pantai. Dan keduanya mungkin bisa didekati jika aku tetap ikut mengais rejeki, namun dengan kadar yang sewajarnya.

Sekedar sharing, mungkin bisa jadi renungan bagi anda-anda yang sudah berstatus sebagai Ibu. Kalau ada yang tidak berkenan, jangan marahi saya yang sok tahu mengenai itu, tapi marahi yang bikin note. wkwkwkkw

N.b akan ada kelanjutan dari serial Duta ini, tetap masih mengcopas note dari orang yang sama. Ngg.. duta apa ya

43 komentar:

  1. hmm... lagi kelebihan waras nih posting hal hal dewasa begini....

    BalasHapus
  2. Very naci sharing .
    Sebuah renungan yang layak dibaca oleh para orang tua dan utamanya ibu atau calon ibu.

    BalasHapus
  3. emansipasi ataupun engga, yang penting tuh kehidupan apa seh yang kita ingin jalankan sebagai seorang wanita yang bahagia? Kalo gw seh itu aja hahahahaha......

    BalasHapus
  4. duta kuliner aja!
    kayaknya nchi cocok tuh.hihihi

    BalasHapus
  5. Nyanyi : Wanita diiiiijajah priaaaa sejak duluuuuuu....

    BalasHapus
  6. duta sheila on 7 aja dudz..

    BalasHapus
  7. hmmm... aku juga mu kelebihan waras ahh...kebanyakan minum obat tadi...

    menurutku emang aku setuju banget sama yang bikin note.. kalo tujuan sebagai penunjang kebutuhan rumah tangga, ga akan salah jika harus bekerja, tapi jika hanya untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi lebih hebat dari pria aku rasa bukan hal yang perlu di banggakan.

    Mungkin itu juga berkaitan sama gerakan feminisme yang saat ini sedang merebak di beberapa kajian kajian, maaf kalo saya sok tau.

    menjadi seorang ibu rumah tangga tak akan mengecilkan derajat wanita tersebut, bahkan akan lebih mulia di mata pria dan agama.

    aku ngomeng kek gini koq geli sendiri ya??? ini bukan aku yang nulis hanya sok waras hohoho...

    salam,
    kucing (sok) cakep ^^v

    BalasHapus
  8. nanananaaa... jadi cinta duta aja (blind date)

    cuihhh...*baca komen sendiri di atas* jadi mules.

    BalasHapus
  9. lagi jadi anak baik yang rajin dan bikin posting seperti ini ternyata hebat euy nice article moccha

    BalasHapus
  10. *jadi puyeng dan pilek baca koment paling panjang di atas*

    butuh obat, ada yang punya ga?

    BalasHapus
  11. semua orang bebas berpendapat ttg emansipasi, tapi...kalau kita sudah pernah mengalami ketimpangan dalam hubungan suami isteri, maka ada kemungkinan kita tidak akan setuju dg pendapat temanmu. Saya bisa bilang begini karena sudah melihat betapa wanita yg tidak bekerja seringkali menjadi bulan2an sang suami. Tapi, saya juga tidak setuju jika kita bekerja utk menunjukkan kita kuat dan hebat. Tidak! Bekerja itu hanya utk aktualisasi diri. Bukan utk gagah2an. Dengan bekerja selain membantu membiayai rumah tangga, juga utk mencegah tindakan suami yg semena2. Mungkin buat yg belum pernah melihat seorang suami yg semena2, tidak akan setuju dg pendapat saya.

    Tapi, that's a life. Kita tdk bisa tutup mata akan adanya suami2 spt itu toh? apalagi jaman sekarang....

    ups..udah kepanjangan nih, nchi. nanti aku dipentung2 sok tau lagi. lha, merit aja belum kok sok pengalaman sih. hahaha...

    BalasHapus
  12. nchi butuh obat??? tinggal pilih nih mu yang mana?? ada kalpanax, daktarin, ada juga rakus racun tikus... tadi abis aku minum yang terakhir masih ada sisa nih hahaha...

    BalasHapus
  13. hoohohoo... panjang koment mba fany, mu ambil meteran dulu buat ngukurnya.

    dan uhh,,, makin puyeng, racun manusia aja joe,lebih manjur dan cepet reaksinya.

    BalasHapus
  14. inspiring note. saya sempat dilema juga antara menjadi ibu rumah tangga saja atau berkarir.

    suami saya untungnya membebaskan untuk memilih apa. jadi saya pilih yang tengah-tengah. tetap bekerja tapi pekerjaan yang tidak banyak menyita waktu.

    emmm, salam kenal ya mbak

    BalasHapus
  15. Hmm...ini tentang emansipasi yak?
    Menurutku siy, semuanya dibalikin ke perempuannya, mau berkarir ato jadi ibu RT biasa, ato malah mau nekat jadi dua2nya. Yang penting dia bisa bertanggung jawab & ga nyebabin yang lain jadi keteteran gara2 yang lain.
    Selamat ber-emansipasi, Chi :P
    Eh, kamu jadi duta kebersihan aja deh, biar rajin ngepel hwahahaha :P

    BalasHapus
  16. untung suami kartini bukan pahlawan kan repot ada surat untuk akmi,, hohoooo... ya cinta emmang duta.. kayaknya cocok tuh O.o

    BalasHapus
  17. *tumben postingnyah serius nih*
    jd, komennya agak serius dikit, ah..*kyk juzoe*..

    Saat ini sebenarnya sudah banyak para perempuan yang memutuskan untuk berhenti bekerja demi untuk dapat menikmati kebersamaan dengan keluarganya. Namun tidak hanya berhenti disitu, mereka juga tetap bekerja. Ya bekerja di rumah! Mereka tetap berpenghasilan. Sesuatu yang mereka banggakan selama ini ternyata tidak hilang begitu saja. Penghasilan itu pun kadang bahkan bisa lebih besar daripada pendapatan mereka di kantor. Banyak yang bisa mereka kerjakan di rumah yang bisa menghasilkan uang. Misalnya dengan membuka toko online, membuat sebuah lembaga pendidikan di rumah, atau menjadi seorang pengusaha home industri yang memproduksi hasil karyanya di rumah. Perempuan-perempuan seperti inilah yang akhirnya mampu mendapatkan dua hal yang mereka inginkan: penghasilan dan kebersamaan keluarga. Mereka benar-benar mampu menjalani dua fungsi dalam keluarga, sebagai ibu rumah tangga sekaligus sebagai perempuan pekerja.

    nah, siapa yg pengen ngikuti jejakku...eh, sprt perempuan yg aku ceritakan diatas..(hayah!)

    BalasHapus
  18. emnasipasi tidak salah, yang mungkin kurang dimengerti adalah arti dari emansipasi itu sendiri..setiap wanita harus mempunyai pendidikan tinggi, pekerjaan layak, ataupun karir yang baik...tapi jangan lupa semuanya untuk MENDUKUNG TUGAS UTAMA seorang wanita untuk menjadi IBU yang ASIH, ASAH dan ASUH buat anaknya dan TEMAN SEPERJUANGAN bagi suaminya dalam berumah tangga.

    BalasHapus
  19. saya komen ya..hehe..3 tahun saya jadi ibu RT biasa, tp aka yg kurang dalam hidup saya. Saya butuh wadah untuk aktualisasi diri. Saya butuh wadah untuk "diakui". Jiwa saya kering selama menjadi ibu rt. Alhamdulillah, saya mendapat pekerjaan yg sesuai skrg. Ini hanya untuk share...bukan semata-mata untuk cari uang. walau uang juga butuh hehe..

    BalasHapus
  20. Wah...bener juga yah...
    Tapi kalo mw dibilang sih serba salah juga...
    Niatnya si ibu sih baik sebenernya, cuma gimana yah...
    Duh, saya jadi bingung mbak...

    BalasHapus
  21. yang paling penting adalah nyari pekerjaan yang bisa sering di rumah... hhhh.... bisa ngga ya? semoga bisa.amin. hehe



    btw iya nih chi aku akhir2 ini masalah perasaan mulu... uhuhuhuhu

    BalasHapus
  22. hm hm.. setuju banget.. yg namanya emansipasi harus tetep ada kadarnya.. :)

    BalasHapus
  23. bisa dterima koq buah pemikirannya, kan setiap manusia punya kebebasan untuk berpendapat dan kita sebagai pendengar harus bisa menghargai itu
    ada benarnya kadang ato bahkan sering maid yg perannya sebagai asisten ato pembantu malah berbalik sebagai peran utamanya, sedang sang ibu malah jadi asisten semata;)

    BalasHapus
  24. duta? bukan duta sheila on 7 to chi hehehe

    BalasHapus
  25. @ mbak tisti, yak itu mimpiku mbak ^ ^

    BalasHapus
  26. wah chi.......!!!!! merinding baca postingannya (soalnya sambil nonton kuntilanak kamar mayat)...

    sebagai pria saya tidak pernah melarang istri untuk bekerja! apalagi bisa punya penghasilan yang sendiri (lumayan buat ngirit beli kosmetik dari kocek sendiri.....wkwkwkwkwkw), bagaimanapun istri saya juga manusia yang perlu bersosialisasi....tapi saat anak saya mulai lebih percaya pada pembantu saya dan saat saya mulai sulit berbicara urusan rumah dengan istri, maka lebih baik istri saya tidak bekerja.........

    BalasHapus
  27. waa....mocca keren euy tulisannya..

    kena bgt dlm soul.

    BalasHapus
  28. wadohhh,, pemikiran sayah belom apek kesitu.. jadi binun sendiri :(

    BalasHapus
  29. wah, cerita para women nih?
    aku harus baca nggak nih?
    hehehehe. yang penting komen dulu ah
    hahahaha

    BalasHapus
  30. btw, kok suratnya tulisannya jadi bentuk sandi ?
    nggak bisa dibaca >.<

    BalasHapus
  31. Betul sekali Nchi... saya sangat setuju dengan semua ini, memang emansipasi itu syah2 aja, tapi bukan pada semua hal. Ingat..! Sebagai seorang wanita yg sekaligus Ibu dari anak2nya, keluarga adalah hal yg utama, jangan prnh sekalipun telantarkan mereka, apalagi anak2. Hanya demi mengjar karir, lalu anak2 hars di asuh dan di besarkan oleh seorang pembantu, apa jadinya nanti?

    BalasHapus
  32. kamu bukan anti emansipasi koq chi,...
    menurut saya, kamu malah menempatkan emansipasi pada porsi yang sebenarnya.
    Saya salut atas pemikiran kamu.

    BalasHapus
  33. ehem2 enchi kebentur apa ya sampe serius gini, ada apakah dg dirimu enchi???

    BalasHapus
  34. jaaahhh di postingan yg baru gak bisa koment euy, padahal tangan udah gatel pengen bercuap-cuap ria.... walah2 *geleng2 kaki*

    BalasHapus
  35. kok aku gak bisa koment di post baru nih. lagi mellow ya nchi? sama dong

    BalasHapus
  36. Walah... Postingan yg baru mengingatkan aku pada diriku sendiri.. uhuk!

    BalasHapus
  37. Wah aku mo komen apa ya? Wong tulisan di bagian note nya itu gak bisa kebaca di tempatku..
    Hmmm... maap maap

    BalasHapus
  38. ya saya maafkan
    eh.. lho??#$%^&

    kok komen postingan baru ga ada?

    BalasHapus
  39. bang fiko pake chrome sehhhh
    yaaaa kagak muncul

    BalasHapus
  40. lhaaa kok aku jadi nyepam?

    tanya ma rumput yang bergoyang
    halahhhhhhhhh

    BalasHapus
  41. tergantung masing2 juga, bukan berarti emansipasi itu harus menjadi wanita karir. Tapi jadi wanita yang lebih menggunakan akalnya dan hatinya.. *menurut saya lho..* :D

    lah saya gak bisa komen di postingan yang baru, dan perasaan saya udah komen disini.. :))

    BalasHapus
  42. waks kok isi notes aku pindah kemari yah :p
    coba dikasih backlink fb nya minimal chi biar ikutan tenar aku hahahhaha....

    BalasHapus

About