Kamis, 15 Oktober 2009

Tentang Dua Ekor Anak Burung

"Terbangnya jangan terlalu tinggi ya, Nak. Tar ketinggian jatuhnya sakit banget!" Kata seekor burung kepada anaknya yang bertengger di dahan.

Burung kecil itu baru akan belajar terbang. Ia menyeringai ngeri mendengar suara Ibunya, sembari setengah matanya melirik ke bawah dengan takut.

"Ibu, aku tidak jadi saja ya belajarnya. Aku takut jatuh nanti," sahut anak burung kecil itu sambil melangkah mundur ke arah sarangnya dengan gugup.

Ibunya menyentuh bahunya dengan sebelah sayap, "Lalu kapan kamu mau belajar?" tanyanya pelan.

"Nanti kalau sudah sedikit besar saja, Bu. Jadi sayapku sudah kuat dan tidak akan capek kalau belajar terbang!"

Ibunya mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kamu diam di rumah saja dulu, Ibu akan cari makan. Nanti kalau sayapmu sudah cukup besar, baru kamu belajar terbang!"





Di dahan berbeda di tengah hutan, ibu dan anak burung lain juga sedang melakukan hal yang sama. Anak burung yang itu sedang berdiri di dahan depan sarang mereka, dadanya tegap, pandangannya lantang menantang bumi.

"Anakku, terbanglah yang tinggi! Jangkaulah angkasa raya dan tunjukan pada mereka yang dibawah ini bahwa kamu adalah anak ibu yang perkasa!" kata Ibunya mantaf.

Anak burung itu mengangguk. "Baik Ibu! Tapi kalau aku capek dan jatuh bagaimana?"

Ibunya tersenyum. "Tenanglah, Nak! Banyak pohon yang bisa kamu hinggapi dengan sisa tenagamu. Lagipula kamu jangan lupa, jatuh itu tanda belajar sudah belajar, dan ada Ibu yang akan menangkapmu kalau kamu jatuh!"

Anak burung itupun melangkah mantap dan mengepakan sayapnya.

******

Setahun kemudian. Seekor anak burung meloncat-loncat ketakutan di atas sarangnya, setengah kakinya sudah menyentuh dahan tempat sarangnya melekat namun sebelahnya lagi menolak untuk beranjak. Badannya kurus, bulu-bulunya pucat tidak pernah tersentuh matahari. Ia kelaparan, Ibunya belum pulang sejak seminggu yang lalu untuk membawakan makanan. Suara angin mengatakan bahwa Ibunya tertembak di tepi hutan oleh pemburu dan kini terhidang di piring para backpaper keesokan harinya.

Sementara di sudut angkasa yang berbeda, seekor anak burung lain melesat di dengan cepat. Sayapnya yang lebar terkepak sekali ketika kakinya yang kekar menyambar seekor tikus tanah yang lari menuju lubangnya. Tetapi tikus itu terlambat, kakinya sudah setengah meter di atas tanah ketika melayang di atas lubangnya, dan ia berakhir di perut anak burung itu.

The end
*****

31 komentar:

  1. hiks..sedih ceritanya. henny ngerti kok maksud dari cerita ini. nice story dan bagus untuk dijadikan renungan :)

    BalasHapus
  2. hwehehhe..tumben henny bisa jadi yang pertama komen disini

    BalasHapus
  3. ceritanya bagus...
    gua sebagai idolamu meninggalkan jejak saja yaaa...

    BalasHapus
  4. kali ini tentang burung tapi tetep aja endingnya tentang kematian... -_-

    BalasHapus
  5. tapi....

    cerita yg bagus. sarat akan pesan.

    *koq aku ngerasa aku nyontek komen ya???*

    BalasHapus
  6. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

    BalasHapus
  7. doooooooooooh makin manstaaaaaabbbsss aja daaah

    BalasHapus
  8. burung kurusnya kaya chidudz ga???


    kt te2h chidudz kuyus pisan, tp ga sia² tika krm stok yg manis² dr bandung yah :p

    BalasHapus
  9. Nice story... Aku juga pengen jadi burung elang :P
    Nchi, tau ga obat pegel itu apa?

    BalasHapus
  10. loh
    kok sari malah nanya obat pegel?emang chidud tukang pijat yak? hihihihi

    BalasHapus
  11. wow
    cerita yang bagus, sarat akan pesan

    *eh iya, spt komeng siapa ya...kok sama*

    BalasHapus
  12. Jangan berhenti belajar
    jangan takut melakukan kesalahan
    jangan ragu-ragu

    BalasHapus
  13. Suatu pelajaran :
    Janganlah takut untuk belajar
    kegagalan, rasa sakit itu akan menjadikan kita lebih pintar

    BalasHapus
  14. jangan pernah takut untuk belajar

    seperti attayaya belajar

    hajarrrr terussss
    kalo salah ntar diperbaiki

    BalasHapus
  15. ilustrasi yang sangat bagus
    belajar terus jangan takut gagal

    BalasHapus
  16. Wah...ceritanya mendalam banget ni mbak...
    Sebuah ilustrasi yang bagus...
    Hmmm, bagaikan manusia yang berbeda nasib...

    BalasHapus
  17. gagal aku mah udah biasa
    tp kok bikin aku tambah kuat ya??hehehe

    BalasHapus
  18. no pain no gain, ya Moc?
    takut sakit sedikit, akhirnya sakit lebih banyak dan berkelanjutan...

    BalasHapus
  19. :). hanya bisa tersenyum saja.

    BalasHapus
  20. makanya orang yang suka berburu burung pastilah mendapat azab dan balasan yang sangat menyakitkan

    BalasHapus
  21. ceritana kerenn nchi ...

    BalasHapus
  22. gak sekedar cerita , bagus buat perenungan ...

    BalasHapus
  23. belajarlah setinggi burung di bulan...

    BalasHapus
  24. aku datang lagiiiiii
    ayem kaming

    BalasHapus
  25. Kau memang seorang pendongeng, ah. Hahaha. :)
    Pantas aja namanya Kugy. Kecil pulak. :p

    BalasHapus
  26. bagus nchi, cerita ini bisa jadi pembelajaran looohhh.... hwekekekekekekek

    BalasHapus
  27. Aku suka baca kisahnya...
    kamu emang serba bisa chi. Sukses buat kamu selalu.

    BalasHapus
  28. Kisah yang sarat akan perenungan..

    BalasHapus

About