Selasa, 19 Mei 2009

Oh, Indonesia. Kenapa Engkau Begini?

Tutt…...

Itu nada sambung yang kelima, panggilanku yang entah keberapa kalinya. Aku tunggu beberapa saat lagi, sekali suara tut pendek, sampai akhirnya suara cewek yang menyebalkan menyahut dari sana.

“Uh, sial!” aku kesal, dengan gemas memencet tombol end.

Udara Guangzhou yang dingin, agak berkabut sehabis hujan tadi ternyata tidak juga bisa membuatku semakin sabar. Dadaku panas, perutku banyak semutnya. Lagipula, siapa juga yang bisa sabar dengan keadaan yang seperti ini.

Aku menghenyakan pantatku di atas kasur apartemen sederhana seharga enam ratus yuan, atau uang makanku selama sebulan sewaktu sekolah menengah atas di Indonesia dahulu. Serbuan angin buatan dari pendingin yang lupa aku matikan sebelum berangkat ke sekolah, semakin membuatku kesal. Hah, beginilah aku kalau sudah emosi.

“AC geblek! Musim dingin begini baru anginmu dingin,” gerutuku.

Iya, dipikir-pikir, AC itu sebenarnya tak salah. Dia tak berdosa karena saat musim panas anginnya tidak dingin, wajar juga kalau sesekali dia mogok karena freonnya terlambat diganti. Yang salah adalah Pak Hidayat, orang geblek pegawai kedutaan Indonesia untuk Cina. Salahnya lagi dia yang mengurusi bagian kesiswaan, dan yang paling salah aku membutuhkannya SEKARANG untuk mentranslate ijazahku yang berbahasa Indonesia ke bahasa Inggris agar aku bisa mendaftar sekolah.

Aku menggeleng heran. Kalau saja aku bisa melegalizirnya sendiri, urusan ini tak akan aku serahkan pada dia. Tapi berhadapan dengan hukum segala macam aku takhluk. Awalnya kemarin aku sudah senang karena dia berjanji mau membantuku setelah berjalan lima belas menit dari apartemen lalu naik Zhan Bis no 54 menuju stasiun Subway, naik Subway sampai di stasiun Gongyuan Qian, kemudian ganti line menuju stasiun Yuexiu Park, lagi jalan enam ratus meter sampai ketemu Dongfang Hotel dan akhirnya sampai di depan kedutaan di lantai dua. Oh.. begitu panjang perjalananku, dan ternyata tidak cukup setimpal untuk mendapatkan bantuan yang layak darinya.

Pagi tadi, dengan kepercayaan yang besar bahwa ijazahku akan siap untuk dipergunakan besok, aku menelponnya. Dia bilang sudah diurus dan aku tinggal menunggu telponnya nanti siangan untuk pengambilannya. Nah, aku masih tenang dan melanjutkan aktifitasku di sekolah mandarin. Sepulang sekolah, karena dia tak kunjung menelpon, aku memutuskan untuk menghubunginya. Jawabannya…

“Cill, saya masih di Hongkong. Kamu telpon ke kantor saja, ya!”

Itu awal kekesalanku. Tapi yah aku masih berusaha bersabar. Di depan sekolah akhirnya aku menelpon ke kantor kedutaan, nah jawabannya ini bikin aku disambar geledek langit cina.

“Tunggu jam 2 ya, Dik, soalnya semua sedang sholat jumat.”

Oh sial, kenapa pula aku hari ini hari jumat, gerutuku. Aku menoleh ke jam di handphone, masih ada sekitar dua jam lagi untuk menelpon, karena itu aku memutuskan untuk pulang saja. Langit Cina sedang menurunkan hujannya saat itu.

Nah sekarang sudah jam 2, lewat malah. Aku sudah sampai di apartemen, bertemu dengan AC geblek ini, dan sudah menelpon selama lima menit tapi tak diangkat-angkat. Hayo, apa lagi yang akan terjadi sekarang?

aku heran, benar-benar heran. Apa sih susahnya membantu anak pelajar macam aku? Mana papa akan datang pula hari sabtu. Dia pasti akan marah padaku kalau saja ijazahku tak selesai besok. Papa, dengan wataknya yang pemarah itu, tak akan mau mengerti bahwa aku sudah berusaha untuk menyelesaikannya secepat aku bisa. Dia pasti akan menohokku dengan pernyataan, ‘kenapa tidak kamu urus lebih awal?’

“Hoh, tidak!” erangku. Tapi tak urung aku mencoba untuk menelponnya lagi.

tut… tutt… tut…

“Halo..”

Yeah diangkat! Aku bersorak girang.

“Halo, saya Cecillia, pak. Saya mau menanyakan soal ijazah saya yang hendak saya translate. Kemairn saya sudah berikan kepada Pak Hidayat dank arena beliau sedang di Hongkok jadi saya disuruh nelpon ke kantor saja.”

“Oh.. yang ijazah yang itu ya? Sebentar hmm.. “ bapak diseberang bergumam sebentar, terdengar juga dia sedang bertanya pada seseorang lainnya, dan ini yang bikin aku deg-deggan.

Oh.. bapak kedutaan terhormat, ayolah bantu pelajar kecil seperti saya, saya tidak berdosa, saya hanya ingin mendapat pendidikan yang lebih layak saja di sini, bukan karena saya tak percaya Indonesia sudah maju dan berkembang, tapi Papa saya yang tidak percaya. Ayolah, bapak! Jangan korbankan saya lagi. Saya…

“Halo..” suaranya membuyarkan ocehanku.

“Iya, bagaimana, Pak?” tanyaku penuh harap.

“Begini, Dik. Sebelumnya saya mohon maaf, karena yang mengurus ini adalah Pak Hidayat dan berhubung beliau sednag pergi jadi ijazah adik tidka bisa selesai sekarang. Adik ambil hari Senin saja bagaimana? Kalau senin bapaknya sudha kembali.”
APA? SENIN?

“Aduh, Pak! Saya pakai buat besok, lho. Tidak bisa diusahakan?”

“Maaf, Dik. Tidak bisa. Harus Pak Hidayat, prosedurnya memang begitu.”

Ohh.. tidak! Kenapa aku harus mengalaminya? Apa salahku? Apa yang kurang lengkap lagi?

Oh, Indonesia! Kenapa dirimu selalu begitu kolot. Kenapa engkau harus meribetkan sesuatu yang sebenarnya mudah hanya dengan alasan prosedur? Oh, Indonesia! kenapa kau buat administrasi yang beribet itu? Kenapa pula sampai di Cinapun engkau masih Indonesia?

Denpasar, 2 Juli 2008
Dilaporkan langsung dari korbannya, seorang pelajar (saat cerita ini ditulis) Indonesia di cina. Sumpah, bukan rekayasa, hanya dibumbui merica, garam dan tanpa cabe.


eh eh eh, dikasi jejak kucing sama si Juragan Kucing, katanya blog jelek ini masuk blog terapdate versi kucingnya dia, ter dari mana ya.....??

meongnya lagi ngantuk keknya tuh,,,

19 komentar:

  1. komengan ku di aprrooooovvveee....

    ehh...kayaknya lom komeng ya... kalo gitu aku baca dulu yaaa.....

    baru komeng lagi...

    BalasHapus
  2. birokrasi di Indonesia memang gitu. pelayanan kepada masyarakat gak pernah lancar.

    BalasHapus
  3. waaahhhhh... chi kamu pernah jadi TKW juga ya hohohoho... yuuukkk....

    BalasHapus
  4. DKD
    duh kecian deh
    birokrasi panjang dan susuah amat

    BalasHapus
  5. Yang ngurus maunya cepet-cepet padahal di kantor masih tenang-tenang. Mestinya jangan selalu mendadak. Kadang kita hanya nuntut hak sementara kewajiban tidak dilihat.

    Jadi ibarat naik mobil di jalan: kita itu harus taat ngikutin aturan rambu lalu lintas, kita juga harus memahami orang lain yang tidak taat akan rambu lalu lintas.

    BalasHapus
  6. @ Mba Fanny kita di pajak berusaha memperbaiki pelayanan lhooo dan semuanya gratis

    BalasHapus
  7. makanya jd calonkan diri dr presiden aja biar indonesia ndak bgitu2 teruss

    BalasHapus
  8. itulah negaraku.. full of birocracy

    BalasHapus
  9. Indonesia, selalu repot dalam hal birokrasi
    dan itu sangat menyebalkan

    mba Mocha chi
    salam kenal ya..

    BalasHapus
  10. Inilah pentingnya reformasi birokrasi. Ini sudah dilakukan di Kabupaten Jembrana, Bali dan BERHASIL!! Butuh kerja keras dan resiko yang besar tentunya karena tak mudah mengubah perilaku. Tapi ini adalah keniscayaan!

    BalasHapus
  11. waaah gitu ya,...sabar...sabar...hehehehehe..
    selamat ya..

    BalasHapus
  12. wuih..ceritanya sudah sampe ke hongkong segala.
    seruuu...

    BalasHapus
  13. ass.
    bisa tempuh birokrasi yang lebih pendek ga nih?
    wassalam

    BalasHapus
  14. wah prosedurnya berbelit2 , tapi kalau pake uang cepetnya minta ampun :P

    BalasHapus
  15. begitulah Indonesia 'birokrasi kompleks'

    ribet untuk urusaN yang seharusnya ga bertele2 yah... pyuuuuuuh

    ikutan sedih dengarnya...

    BalasHapus
  16. hihihihi, begitulah indonesia... bikin semua org menghina negeri ini.

    BalasHapus
  17. Oh Indonesia.... aq jadi sedih kala mengingatmu seperti itu..... ihiks kjadi merasa bahwa negara indonesia kejam yak terhadap pelajar kecil.....

    weleh aq juga dapat tuch dari si zujoe tp lom dipasang....

    BalasHapus
  18. emang bener ada beberapa tempat yang seperti itu. tapi jangan disama ratakan dong...

    tidak semua begitu. Bukan apa2, tapi dengan kita apriori dan skeptis, tidak juga membuat lebih baik.

    Masih banyak yang kerja bener2. Contoh aja, seorang PNS di Sumatra, dia dengan biaya kantong sendiri membuat penerangan tenaga hidro...

    Atau juga di Jogja (tempat saya tinggal) layanan perijinan (pelayanan 1 atap) mendapatkan pengakuan dan dijadikan proyek percontohan tingkat asia. Karena cepat, bebas KKN dan bebas pungli.

    See....
    nggak semuanya buruk :)

    BalasHapus