Sabtu, 20 Desember 2008

Bawang Merah dan Bawang Putih

untuk cecil yang kecepatan, selamat ulang tahun. Setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya sendiri, dan bukan untuk diperbincangkan, namun semata-mata untuk membuatnya jadi indah. Miss u

Suatu hari di keranjang bumbu sebuah rumah, dua keluarga bawang sedang asyik menikmati matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela yang terbuka. Si Bawang Putih bertengger pongah di bagian atas, badannya yang besar dan dengan sedikit tangkai membuatnya selalu berada di atas karena akan menyesakan keranjang jika ditaruh di dasar. Sementara di bagian bawahnya, Bawang Merah terpojok di bagian dasar dengan kulitnya yang merah namun sudah keriput.

Bawang Putih paling senang mentertawakan bagian itu.

“Lihatlah diriku, seberapa lama aku hidup, kulitku akan selalu mengkilap dan licin. Siungku penuh, tidak mengkerut sepertimu saat dimakan usia,” ejeknya sambil tertawa.
Bawang Merah hanya tersenyum. Biasanya ia hanya mendumbel sebal dalam hati saat Bawang Putih mencemoohnya tiap hari dengan materi yang berbeda.


Namun kali ia tidak tahan. “Biarkanlah aku hidup dengan kekuranganku, kulit terkelupas, merah membara, kerisut dan membusuk. Namun setidaknya kalau tidak aku, nasi goreng tidak akan lezat!”

Mendengar hal itu, Bawang Merah tertawa. “Apa? Lezat? Tidak salah?” ia melanjutkan tertawa, sampai terpingkal-pingkal.

“Tidakah kamu pernah melihat kalau orang membuat nasi goreng tidak perlu memakai bawang merah? Yang mereka perlukan adalah aku, Bawang Putih, yang dicincang dan mengeluarkan aroma terenak sepanjang masa. Dan kau, Bawang Merah, hanya jadi penabur, bumbu tambahan yang tidak akan membuat yang memakan kehilangan selera jika kamu tidak ada.”

Bawang Merah diam sesaat, ouh, rupanya ia mengambil kelebihan yang kurang tepat.
“Terserah kamu saja, tapi Ibu-Ibu rumah tangga, lebih sering membeli aku daripada kamu! Lihatlah mereka di pasar, berkilo-kilo membeliku, sementara dirimu, paling banyak hanya satu kilo.”

Namun Bawang Putih makin terkekeh. “Kamu sungguh lugu dan bodoh. Mereka membelimu banyak-banyak karena ukuranmu yang kecil, sungguh boros saat dipakai memasak. Rasamu tidak pekat, jadi jika hanya diisi sedikit tidak akan membuat masakan lezat!” hardik Bawang Putih dengan sangarnya.

Bawang Merah kembali diam, merasa tertohok.

“Sadarlah, Bawang Merah. kamu tidak lebih berarti daripada aku. Aku banyak manfaatnya, bumbu dasar nasi goreng itu aku, siungku memiliki zat anti kanker yang baik untuk manusia, dan pernah kan kamu mendengar di Cina sana, orang-orang memakaiku untuk mengalahkan vampire?” Bawang Putih kembali terkekeh.

“Sadarlah kamu juga, bahwa ukuranmu yang besar itu juga memenuhi wadah? Merugikan manusia?” balas Bawang Merah perlahan.

Bukannya kalah, tawa Bawang Putih makin menjadi-jadi.

“Hey, cuma masalah keranjang, manusia bisa membuat banyak keranjang untuk menamung bumbu-bumbu lain. Mereka tidak akan merasa dirugikan, justru karena aku besar itu sangat menguntungkan mereka. Nyawaku banyak karena satu butir berisi banyak siung, dan itu membuat pengeluaran mereka semakin irit.”

Mendengarnya Bawang Merah hanya diam. Bawang Putih semakin senang karena ejekannya berhasil.

“Dan lagipula, kamu mempunyai gas menyengat yang menganggu. Manusia menangis saat mengirismu. Aku berani taruhan kalau mereka tidak akan memakaimu jika bisa menemukan butiran bawang lain yang lebih bersahabat. Tidak keriput, tidak kerisut, tidak berbau menyengat. Dan… kurasa juga sudah ada penggantimu, Bawang Bombay, jauh lebih besar, tidak terlalu mengeluarkan gas yang membuat perih dan… dia itu bawang impor. Aku lebih senang berkeluarga dengan dia,” Bawang Putih melirik Bawang Merah yang makin tersudut. “Bukan dengan bawang kecil menyedihkan sepertimu!”


Bawang Merah tetap diam, membiarkan Bawang Putih berbicara panjang lebar tentang Bawang Bombay itu.


Disaat yang bersamaan, pintu dapur terbuka. Penghuni rumah, seorang wanita cantik masuk bersama seorang lelaki tampan sambil membawa bungkusan. Mereka tertawa-tawa, saling bercanda, dan kedua bawang mendengar mereka akan memasak bersama.

“Sayang, kita masak apa?”

“Masak hati dengan bumbu cinta!” jawab sang wanita sambil meletakan bungkusan dan mengambil keranjang bumbunya.

Mereka kembali terkikik.

“Sayang, kupas bawangnya tolong!” pinta sang Wanita.

Lelaki tampan itu bergeser menghadap ke keranjang, memilih-milih bawang, namun menggeleng saat melihat betapa kecilnya si Bawang Merah. Ia mengambil bungkusan yang dibawa sang Wanita lalu mengeluarkan butir-butir bawang bombay yang besar dan ranum.
Bawang Putih tersenyum mengejek. “Nah, kamu lihat sendiri kan, lelaki itu lebih memilih Bawang Bombay daripada kamu!”

Bawang Merah hanya bisa terdiam, tersuruk di sudut.

Sang wanita menoleh, melihat pacarnya menggenggam bawang bombay.

“Aduh, Sayang, jangan bawang yang itu! kita tidak akan membutuhkan bawang yang besar itu untuk masakan kita, karena rasanya kurang kuat. Pakai Bawang Merah, yang kecil-kecil itu!”

Bawang Merah tersenyum mendengarnya. “Nah, dengarkan kamu, orang yang pintar memasak lebih memilihku daripada keluarga impor yang kamu dengungkan tadi. Sedangkan kamu sendiri, sama sekali tidak bisa memasak namun sudah berani menilai sesuatu. Lain kali, belajarlah memasak dahulu, baru kemudian menilai bumbu apa yang paling penting.”

Sang lelaki mengambil bawang merah, bersiap akan mengupas. “Bawang putihnya juga, Sayang?”

“Tidak! Kita tidak memakainya, aku tidak suka. Baunya ga enak!”

Sang lelaki mengangguk, mulai mengayunkan pisaunya ke arah kulit keriput sang Bawang Merah yang mengikik menang. Sayup-sayup, terdengar suara keresak saat kulit-kulit keriput itu diangkat, hingga akhirnya ada siung kecil yang merah merona dan indah.

“Eh, Bawang Putih, kurasa ada untungnya aku hanya punya satu nyawa,” teriak Bawang Merah dari tangan sang lelaki. “Aku lebih cepat ke surga daripada kamu, dan di surga aku tidak perlu mendengarkan ocehan orang tua seperti kamu. Selamat tinggal, berbahagialah dengan keluarga impormu si Bawang Bombay!”

Lalu sang wanita datang dan menuangkan bawang Bombay yang basah ke keranjang. Cairannya memercik, menetes di kulit Bawang Putih yang mengeryit.

“Hatcca hatcaaa haccaa Bawang Putih, saia Bawang Bombay hayaa…” teriak Bawang Bombay dengan semangat.

Dan untuk hari-hari selanjutnya, Bawang Putih makin mengkerut karena pusing mendengar suara Bawang Bombay yang nyaring sangat impor itu.

****

20 des 08

This entry was posted in

6 komentar:

  1. Hahaha mau masak aja ngayal dulu bikin cerita...dasaar areee..hehehe mending makanannya kirim2 ya kerumah memi..

    BalasHapus
  2. seru jga ne ceritana...hehe

    BalasHapus
  3. Muah muah muah! Makasih sis! ^^ ~

    BalasHapus
  4. jiyaaahhhh bawang putih dan bawang bombay akhirnya..... bawang bombay ngemengnya begono ya... mentang2 datangdari india.... xixixixi

    BalasHapus