Kamis, 04 Desember 2008

Antara Otak dan Hati

Hari telah mencapai petang kala itu, saat terjadi perdebatan sengit antara dua buah organ di dalam tubuh manusia. Sang Hati dan Sang Otak, entah kenapa keduanya seringkali berselisih paham akan suatu hal, yang selalu diakhiri dengan kemenangan sekaligus menangisnya Sang Hati.

"Ingat, bagaimana perlakuannya pada kita, buat apa kita mengucapkan hal itu padanya?" sergah Sang Otak.

Sang Hati menggeleng, dengan sayu menjawab. "Tidak begitu! Memang kamu menganggap perlakuannya selama ini begitu asing bagi kita, tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya."

Sang Otak marah. "Tidak cukupkah penderitaan kita selama ini? siang dan malam terbayang-bayang, tidak enak tidur, tidak enak makan, hanya suasana muram yang entah mengapa!"

"Tapi aku ingin, Titik!"

Sang Otak mendengus, dan akhirnya begitulah setiap saat. Hati selalu menang, ini pula pangkal mengapa ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta tidak mengenal logika, tidak mengenal otak.

"Terserah!" tegas Sang Otak. "Tetapi aku tidak mau menanggung akibatnya!"


Akhirnya maksud Sang Hati yang dilaksanakan, mengirim sajak hari lahir pada dua organ di tubuh seberang, yang jauh dari Sang Otak namun terasa dekat oleh Sang Hati.
wish u all the best


Mereka menunggu, antara ingin dan menolak, Sang Hati dan Otak kembali berselisih paham.

"jangan ditunggu!" ingat Sang Otak.
"Iya, tapi aku berharap dia membalas!" jawab Sang Hati.
"Itu sama saja dengan bohong, jangan ditunggu!"
"Tidak!"
"Jangan!"
"Tidak!"

Akhirnya, balasannya datang, seuntai sajak terimakasih, sedikit panjang dengan penjelasan segala macam.

"Lihatlah, dia tidak melupakan kita!" jerit Sang Hati senang. Sekali lagi membaca untaian itu, tanpa berkedip.

Sang Otak hanya diam, menyaksikan. Sesekali ia ingin mengingatkan Sang Hati, agar jangan terlalu menganggap balasan itu sebagai sesuatu yang serius, karena bagaimanapun Sang Hati begitu sensitif dan bisa saja kembali tergoda untuk menyimpan bayang itu dalam relungnya. Lama Sang Otak memikirkannya, hingga akhirnya ia menyadari sesuatu.

Sang Otak menangis.

"Kenapa menangis?" tanya Sang hati yang masih bahagia.

Sang Otak menjawab. "Aku menangis, karena baru menyadari betapa besar arti dia bagimu, bagi kita dan bagi tubuh ini. Hanya balasan sedikit ini saja kamu sudah begitu bahagia, apalagi jika lebih. Membuatku makin takut, kalau kita memang benar tidak bisa lepas darinya."

Sang hati termenung, diam. Menyadari bahwa, semua itu benar.
Semua itu benar. dan masalahnya, dia adalah satu yang harus ditinggalkan kalau mau hidup tanpa sakit.
mereka terdiam, kembali menangis.




this is real
This entry was posted in

9 komentar:

  1. yuhu halohaa...

    :)

    happy bird-day, anyone ;)

    hehehehe..

    selamat hari burung..

    semoga tambah banyak kicaumu di blogmu tercinta ini :P

    BalasHapus
  2. wah, bagus nih. antara otak dan hati memang sering gak kompak. apalagi kalo urusan cinta. eh, bener gak nih? soal cinta yg diributkan ya?

    BalasHapus
  3. saat ketidakseimbangan antara hati dan otak terjadi, biasanya tubuh akan memberikan tanda/sinyal

    BalasHapus
  4. Duuuh dhie siapa sih chi di ceklik ngga bisa, tapi koment nya itu lho....siiip

    BalasHapus
  5. dan akhirnya di tolak hohoho... ikut sedih ahh... hiks...

    BalasHapus
  6. hati dan otak emang kadang sulit untuk bersatu nchi..... wkekekekek

    BalasHapus
  7. yah... antara otak dan hati emang terkadang kontradiktif. Itulah yang namanya dilema.

    BalasHapus
  8. Yeah,, emang gag bs klop dr awal.
    Nice article thx.

    BalasHapus