Selasa, 21 April 2009

Tentang Sebuah Kebaya Putih Dua Motif

Seorang gadis berkebaya merah jambu baru saja tersenyum kepada penonton. Tidak menunggu hingga MC menyuarakan betapa banyak tepuk tangan yang ia peroleh, ia sudah bergerak mundur dan menuruni panggung. Teriakan masih bergemuruh saat ia mendarat di sisi panggung, tempat seorang gadis lain dengan kebaya putih bermotif aneh menunggu dengan tenang.

“Giliranmu, Wi. Semangat, ya!” ucapnya.

Gadis berkebaya putih itu tersenyum, tidak berkata apa-apa setelahnya. Wajahnya terlihat tegang, walau berkali-kali mengusapkan tangan pada kedua sikunya. Ia berusaha mengendalikan diri. Seperti gadis berkebaya merah muda tadi, ia juga ingin penonton bertepuk tangan. Tetapi ia sadar bahawa ia tidak bisa disamakan dengannya, terutama dengan pakaiannya, kebayanya.

Sekali lagi gadis berkebaya putih itu memperhatikan kebaya yang dikenakannya. Jelas sekali terbuat dari dua bahan kain berbeda yang disambung. Motifnya berbeda, warnanya juga agak berbeda walau sama-sama putih. Tetapi ia senang, setidaknya hanya dua motif, tidak seperti kebayanya tahun lalu.

MC terdengar memanggil namanya, dan sekarang waktunya untuk naik panggung. Lomba interpretasi tentang buku R.A Kartini yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang dan dirinya didaulat untuk mewakili kelas. Tepuk tangan dan teriakan penonton terdengar, walau tidak semeriah tadi. Gadis kebaya putih itu tahu teriakan itu milik teman sekelasnya yang memberinya dukungan. Dan dia, tidak mau mengecewakan mereka.

Akhirnya ia menaiki panggung dengan sedikit gemetar. Ia gugup, apalagi melihat seluruh pasang mata yang memandanginya, persis seperti serumpun rumput hijau di tengah-tengah domba yang kelaparan. Syukurnya mereka bukan domba, dan dia bukan rumput. Jadi ia bisa tenang kalau badannya masih utuh saat selesai nanti.

“Selamat siang,” itu kata pembukaannya yang diucapkannya dengan bergetar. Semua orang diam, menunggunya. Gadis itu menelan ludah, matanya memandang ke seluruh penonton. Debar-debar di jantungnya makin keras, jika dibiarkan dengan berdiam semakin lama, ia takut kalau ia bisa saja lari ketakutan dari panggung dan ditertawakan.

“Door Duisternis Tot Licht. Habis gelap, terbitlah terang. Bagi saya maknanya adalah pagi,” ia berhenti sejenak, menunggu reaksi penonton. Ia sudah memprediksi kerut di dahi mereka, atau alis yang hampir bertautan, atau tolehan kepala ke samping sambil bergumam heran. Gadis itu tersenyum puas.

“Marilah berbicara tentang sebuah kebaya. Bukan kebaya terindah yang pernah ada, tetapi kebaya paling berharga yang pernah ada, bagi seorang gadis yang mendapat hadiah dari ibunya. Kebaya itu bermula dari suatu pagi, tanggal 21 April setahun yang lalu. Hari Kartini, Ibu itu tahu bahwa kebaya yang ada di lemari anaknya hanya akan cukup sampai Kartini tahun itu saja. Sudah tiga kali Kartini kebaya itu ada, yang ia buat dari sisa-sisa kain bekas jahitan pelanggannya. Sedih memang, tetapi Ibu itu tidak bisa memberikan anaknya kebaya baru. Suaminya yang telah tiada yang hanya meninggalkan sepetak rumah kecil yang mereka tempati, dua orang anak yang masih kecil pula. Pekerjaannya hanya sebagai tukang jahit kebaya, dan itu hanya cukup untuk makan dan sekolah anak pertamanya.”

“Ibu itu mengambil kebaya anaknya di lemari, memperhatikan dengan seksama. Di bawah keremahan cahaya bohlam 25 Watt, sekarang ia melihat bagaimana kusutnya kebaya itu. Jelek, warna merahnya yang berbeda-beda kusam dimana-mana. Ibu itu ingat bagaimana ia mengumpulkan sisa kain kebaya warna merah selama beberapa tahun, hingga setelah dijahit lagi cukup untuk membuat satu kebaya. Pertama kali melihatnya, sang anak tercenung, antara kaget dan terharu. Ibu itu tahu anaknya tidak menyukainya, namun ia tercengang saat pagi menjelang, anaknya tersenyum dan memintanya untuk membantu memakai kebaya. Ia bahkan menangis sesenggukan di dapur setelah anak perempuannya meninggalkan rumah dengan kebaya itu.”

“Setelah tiga tahun, kebaya itu tidak muat lagi. Jahitannya sudah ada yang lepas, walau bisa ditambal, tetapi ukurannya sudah tidak muat. Anak perempuannya sudah besar, sudah kelas lima sekolah dasar. Saatnya untuk memakai kebaya baru. Namun Ibu itu tidak punya uang. Sementara kebaya di tangannya hanya muat untuk tahun itu saja.”

“Maka, seminggu sebelum Kartini tahun berikutnya, setelah sang anak pergi ke sekolah dengan menjunjung nampan berisi kue dagangan, sang Ibu pergi ke kamarnya sendiri dan mengeluarkan pakaian-pakaian bekas punya suaminya. Masih ada beberapa potong yang tersisa, pakaian kesukaan sang Ibu yang sangat sayang untuk diberikannya pada keluarga yang meminta. Pakaian-pakaian itu punya sejarah, salah satunya dipakai suaminya saat melamarnya dulu. Satu potong lainnya dipakai suaminya saat ia melahirkan anak pertama.”

“Ibu itu memperhatikan pakaian itu sekali lagi, menguatkan niat. Toh, ini untuk anaknya, suaminya tidak akan marah. Setelah menarik napas, maka sang Ibu pergi ke sebuah toko pakaian bekas, ia menawarkan pakaian suaminya. Pemilik toko tidak terlalu tertarik karena pakaian itu sudah kuno, namun sang Ibu membujuk. Ia bahkan bersedia bekerja seharian di tempat cuci pakaian bekas milik pemilik toko, hanya agar pakaiannya dibeli. Dan, Ibu itu cukup puas, ia berhasil mendapatkan uang sebesar lima puluh ribu rupiah. Cukup untuk membeli selembar kain kebaya.”

“Namun, tampaknya kain sekarang semakin mahal. Uang itu hanya cukup untuk membeli setengah dari kain yang diperlukan. Ibu itu bingung sementara dagang kain bilang bahwa semakin hari harga kain akan semakin mahal. Jika ia membelinya kemudian hari, takutnya uangnya semakin kurang. Sang Ibu akhirnya memutuskan untuk membeli kain berwarna putih dari jenis termurah, membelinya setengah bagian dahulu.”

“Ibu itu akhirnya pulang dengan membawa kain itu dan menyembunyikannya dari anaknya. Ia kembali ke lemari bajunya sendiri, mulai memilih baju-bajunya sendiri yang masih layak. Ia sudah bertekad bahwa anaknya harus mendapatkan kebaya baru tahun ini, dan ia akan melakukan apa saja. Ia membawa beberapa potong bajunya ke pedagang baju bekas yang sama, kembali bekerja seharian di tempat cucinya seharian, dan kembali ke penjual kain yang sama beberapa hari kemudian. Ia ingin mendapatkan setengah bagian kainnya lagi. Namun sayang, pedagang kain bilang bahwa kain jenis kemarin sudah habis. Yang ada hanya kain berwarna putih lain, dengan harga sedikit lebih mahal. Kain serupa baru hanya akan ada seminggu, dan Ibu itu tidak punya waktu.”

“Akhirnya Ibu itu merelakan sandalnya untuk menambahkan uang yang ia punya, ia membeli kain kebaya berwarna putih itu. Ia cepat-cepat pulang dan mulai mengerjakan kebaya anaknya. Setidaknya anaknya punya kebaya baru, walau kainnya berbeda.”

Gadis itu menarik napas, matanya sudah berkaca-kaca. Ia tersenyum. “Door Duisternis Tot Licht. Habis gelap, terbitlah terang. Bagi saya adalah pagi. Pagi saat cahaya matahari datang setelah kegelapan malam yang panjang, cahaya kehidupan yang membuat saya bisa terus berjalan maju. Cahaya putih yang menuntun dan melindungi saya dari kegelapan yang menakutkan. Dan cahaya itu adalah, Ibu saya sendiri. Ibu yang rela menjual baju serta sandalnya untuk kebaya dua motif saya. Ibu yang saya cintai. Terimakasih!”

Tidak ada tepuk tangan dari penonton. Hanya senyum terharu dengan mata berkaca-kaca. Namun ketika gadis berkebaya putih dua motif itu membalas tersenyum, penonton bergemuruh lebih hebat daripada saat gadis berkebaya merah jambu menyelesaikan kata terakhirnya.


Denpasar, 21 April 2009
11.04 WITA
*juga untuk mengerjakan PR dari Wafi. Semoga bisa dalam wujud cerpen, karena hanya itu yang saya bisa. walaupun belum tahu apakah pantas, tapi aku pajang juga hadiahnya. Selamat hari kartini ^ ^




This entry was posted in

22 komentar:

  1. pertamaxxxxxx, bacanya ntar ya...aku mo ke mbak fanny dulu brgkali jadi yang pertama...hehehehe

    BalasHapus
  2. Luar biasa, saya terharu dan berkaca-kaca membacanya .......

    BalasHapus
  3. Wanita, tentangnya tiada akhir

    BalasHapus
  4. @ mas Sugeng, artinya Mas memang membaca keseluruhannya, dan yah... aku saat mengakhirinya juga agak yah... sedikit berkaca kaca.:D

    thanks

    BalasHapus
  5. Beah,sadappp... Wkt bca perasaanku jd aneh. Trharu,senyum", dan bilang kalu wanita indonesia wajib meneruskan perjuangan wanita tangguh itu....

    BalasHapus
  6. perempuan lembut nan memepesona penuh misteri

    wuis,, makin rame disini mbak.... tukeran link yah... aku dah pasang link kamu... ok.. sii

    BalasHapus
  7. aduh sedih banget...untung anaknya baik ya, tahu berterimakasih kpd ibunya...

    tapi napa ya gak ada hari cut nyak dien? mnrtku dia lebih 'perkasa' hehe

    BalasHapus
  8. haduh aq gak bisa mengungkapkan apa-apa..... ceritanya bgus dan mengharukan, jujur aq sampe berkaca-kaca bacanya..... bahkan seluruh tubuhku merinding bacanya...

    yupz, aq juga pasti bisa seperti R.A. kartini.

    met hari Kartini yak....

    BalasHapus
  9. sedih nih. hiks...bagus deh!

    met hari Kartini ya....

    BalasHapus
  10. Bagus ceritanyah...sampe berkaca2 beneran.... :( met hari kartini :)

    BalasHapus
  11. wdowwwww ini sih skripsi namanya

    BalasHapus
  12. wow..cerpen yang bagus banget,
    aku sampe terharu ngebacanya
    :)

    BalasHapus
  13. terharu juga nih, memang orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya ...

    met hari kertini mba :)

    BalasHapus
  14. trima kasih pastisipasinya. Setiap kata jika diucapkan dari bibir yang tulus penuh kasih sayang seperti pidato singkat si kebaya putih itu, .....sepenggal kata meski sedikit akn lebih bermakna daripada pidato panjang di istana negara yg diucapkan hanya untuk intrik belaka.

    BalasHapus
  15. jadi ngebayangin kamu pake kebaya putih. he he he...

    BalasHapus
  16. hiks daku bacanya sambil ngantuk nih mpok eh salah tante eh salah aduh salah mulu nih, ya sudahlah daku nikmati cerita kamu ini yap.

    BalasHapus
  17. wuiih, templatenya ada warna unggu,,,, sesuai warna kesukaan saia, salam kenal mbak

    BalasHapus
  18. selamat hari kartini bagi semua kaum hawa

    BalasHapus
  19. dua motif.... sepertinya dua kata itu perlu digaris bawahi. kenapa dua chi?

    BalasHapus
  20. ihiks...terharu , kayaknya dalem banget nich...ada pengalaman pribadi mungkin .

    BalasHapus
  21. Kenapa dua ? karena bukan tiga atao empat.. hehehe

    BalasHapus
  22. Kartiniku, ayo menulis lagi..
    HEBAT, Chi.. I love it. xo

    BalasHapus