Jumat, 17 April 2009

Hedy, Idamanku

Aku tetap menyebutnya Hedy. Dia akan datang dan aku sedang menunggunya. Entahlah, apa yang kurasakan ini karena apa. Jujur, aku deg-deggan, aku grogi. Bagaimana tidak, ini pertemuan pertama kami setelah obrolan singkat kami lewat telpon.

Aku menemukannya ketika sedang jenuh. Waktu itu aku sedang melatih tanganku. Aku mengklik-klik asal di web yang terbuka, dan menemukan gambarnya disana. Dia, sungguh cantik, dia imut, dia menggemaskan. Potonya, memakai pita merah muda kecil, langsung memikatku waktu pertama kali melihatnya di layar monitor. Entahlah, mungkin aku terlalu sensitive, aku merasa dia adalah reinkarnasi Hedyku yang dulu, yang telah pergi karena sebuah kecelakaan mengerikan.

“Aku menginginkannya, Papa!” rajukku saat itu.

Papa, yang sedang ada di Singapura heran. “Apa sayang?”

“Aku menginginkannya, Papa! Dia Hedyku dulu.”

Nada suara papa meninggi, “Hedy?”

Aku mulai terisak, mengenang Hedy bagiku sangat menyakitkan. Tak seharusnya dia pergi dalam waktu secepat itu. Papa juga menyadarinya, dia tahu bagaimana dekatnya Hedy denganku.

“Tenanglah, Sayang! Kalau Papa sudah pulang, Papa janji, kita akan mendapatkannya.”

Tangisku makin menjadi, “Tapi Papa, dia tidak disini. Dia.. dia….”

“Tenang, sayang!” bujuk papa, “Sekarang bilang, dia dimana? Papa akan menemukannya untukmu.”

Papa memang baik. Sambil sesenggukan aku menyebut alamat di bawah potonya. Papapun berjanji akan terbang ke Bali untuk menjemputnya. Dan papa memang menepati janjinya, seminggu setelah aku menangis, ketika di perjalanan pulangnya, ia menelpon pulang dan memperdengarkan suara Hedyku padaku.

Kringg.. kring.. kring….

Telpon di ruang keluarga berbunyi. Mama sedang di halaman belakang. Suster sedang menebus obatku ke apotek. Pembantuku juga dalam perjalanan menuju supermarket. Jadi hanya aku yang disini, dan telpon itu menungguku.

Pelan-pelan aku mendorong roda kursiku ke depan dengan kedua tangan yang terus bergetar hebat. Syukurlah mama orangnya telaten dengan tidak membiarkan apapun berserakan di lantai. Kalau tidak, kursi rodaku tidak akan meluncur selancar ini menuju meja telepon.

Suara papa langsung terdengar sebelum aku mengucapkan halo. “Sayang, papa sama Hedy sudah di depan. Kamu coba toleh keluar!”

Aku terlonjak, cepat-cepat menoleh ke arah pintu. Papa terlihat di belakang jendela, memegang hanphonenya sambil melambaikan tangannya. Hedy tak nampak bersamanya, tapi aku yakin papa berhasil membawanya untukku.

Gagang telpon langsung kulempar, suara benturannya terdengar keras. Aku tahu mama pasti terkejut di halaman belakang, tapi aku terlalu senang saat ini. Tergesa-gesa roda kursi aku dorong menuju pintu, aku sudah tak sabar. Jantungku berdetak kencang, grogi tadi hilang entah kemana, mungkin gairah karena akan memeluknya menguapkannya ke udara.

“Ara, hati-hati, sayang!” teriak mama di belakang sambil berlari mengejarku.

Aku tetap peduli, pintu semakin dekat, dekat dan dekat. Entah kenapa rasanya kok begitu lama. Aku makin tak sabar, seandainya saja kaki ini tak kebas permanent, seandainya saja tulangku tumbuh benar, aku tak perlu menunggangi kursi roda ini. Hohoo… cepatlah kursi, ayo cepat!

Dua meter dari pintu, entah kenapa sesuatu seakan-akan menjegalku. Kursi rodaku berhenti tiba-tiba, melontarkan aku ke depan. Aku tersuruk, sebenarnya aku sudah sering mengalaminya dan kedua tanganku refleks terjulur ke depan. Tapi aku begitu ingin melihat Hedy, hingga lupa menjulurkan tanganku. Aku terjungkal dengan wajah pertama menyentuh lantai.

Pintu membuka tepat ketika daguku menyentuh lantai. Mama menjerit panic di belakang, papa langsung menerjang masuk dan merangkulku. Maaf, sekali ini aku tak menghiraukan kalian, aku terlalu senang, karena dua mata bening dari seekor pudel cantik berpita merah menatapku. Aku senang, walau setelahnya semuanya menjadi gelap.

Denpasar, 24 April 2008 (wow, ini cerita sudah hampir setahun, ternyata)
posted in www.kemudian.com



This entry was posted in

31 komentar:

  1. Bhagia sekali dapat si hady..mau jg dong?xixixixh tp kasihan juga, sangking senengnya ampe rela tersungkur d lantai...

    BalasHapus
  2. nice story ... bikin pembaca penasaran.
    Ternyata si Hedy itu to yang ditungu-tunggu.
    tak pikir Fadel bukan fudel.
    Berhasil menipu

    BalasHapus
  3. oo..ternyata si hady seorang pudel.. *manggut2*

    Nice story sob..

    BalasHapus
  4. maauuuuuuuuuuu...
    pasti hedy na lutu pisan yak heeh...

    bersambungkah??

    BalasHapus
  5. Hedy...guk guk guk..
    ke mari.. guk guk guk..

    hehehe, ternyata anjing pudel yang ditunggu-tunggu, :p

    BalasHapus
  6. hedy...guk..guk..
    kemari..guk..guk..
    ayo lari-lari

    lagu jaman beheula

    lha terus cewek tuh meninggal ya?

    BalasHapus
  7. hedy guk..gukk...
    ayo keblogku...
    hedy kasih komen donk dipostinganku

    BalasHapus
  8. hedy oh hedy, kenapa kau makan rumput nak ? ...

    BalasHapus
  9. mellow stori sangking senengnya sampe jatuh. kasian ya...

    BalasHapus
  10. menohok chi.... aku pernah mengalami kisah aneh dengan orang yang hanya aku kenal lewat telepon. seolah takdir menghubungkan dgn tangannya lewat satu orang yg menghubungkan kami. but... hahahahah selesai. nothing 2 loose

    BalasHapus
  11. aduh, ceritanya tragis.

    ;( speechless, hiks

    BalasHapus
  12. cuma aku bukan anjing gahahahahaha

    BalasHapus
  13. yang jelas segala sesuatu jangan berlebih bisa lupa keseimbangan.

    BalasHapus
  14. Hehehehehehe...Hedyyyyyyy...
    Kamu sekarang tampak lebih putih dari pada hedy yang dulu.
    Ohh Hedy ternyata kamu panuan ya ? pantesssss..

    neh yang dimaksud Hedy yang mana seh?
    Hedy si pudel apa Hedy sebelah rumah tetangga?

    BalasHapus
  15. hehehe, kirain siapa...si Hedy itu...
    taunya makhluk manis berbulu putih, ahh..jd pengen ketemu si Hedy...

    BalasHapus
  16. hedy ato heidy sih?hehehehe

    kabur,,,,

    BalasHapus
  17. hahahah, cuma ada 2 kata untuknya: co cweet :P hihihihi

    aneh2 ajah :D

    BalasHapus
  18. siang menjelang sore. baru sempet nih.

    BalasHapus
  19. Aku juga pernah nyusruk nyium lante.
    (ngomong apa sih aku?)

    BalasHapus
  20. Ini bukan persoalan ending yang ternyata ditebak sebagai pudel. dan ini bukan persoalan cerita yang menempelkan perasaan sebagai bumbu utama. tapi ini persoalan kehebatan menyusun alur yang hmmmm... aku sendiri pun belum tentu bisa!

    alurmu asiiiiiiiikkkkkkkk!!!

    sori kalo cerita sih biasa, tapi penggubahan rasa pembaca itu yang aku suka sehingga negbuat sebuah susunan yang pantas untuk two thumbs up!

    saluuuttttt!

    maaf ya kalo ada kata2 yang gak yoi buatmu, ini sekedar saling membangun ajah! xixixixiixix

    BalasHapus
  21. cerita yang menarik, ada saatnya perjumpaan itu datang pada saat yang tepat dan waktu yang tepat pula.

    BalasHapus
  22. tadi pagi ada anjing pudel di jalanan yg berhasil kabur kayakny..
    udah ga keurus gitu.. mo kuambil ga ada tempat buat parkir.. huks.. huks...

    BalasHapus
  23. obama malah beli anjing baru dari ras portugis yg langka

    BalasHapus
  24. Knp blum posting nih? Pa iya tulisan d blog ivan kurang jelas d baca? Soalnya ngeditnya pake hp, pa tau bda d layar kmptr!!! Ayo semangat nulis...

    BalasHapus
  25. mbak cerpennya bagus.. belajar dimana sih? boleh donk private? ;p

    BalasHapus
  26. wah pastinya lucu si hedy tuh
    sampek sampek segitunya
    lucu mana ama titanic di blog ku hayoo

    BalasHapus
  27. tertipu aku kirain haidy cewek tahunya anjing pudel.., ceritanya keren abis. Salam kenal

    BalasHapus