Jumat, 02 Januari 2009

Say, Nikah, Yuk!

Malam tahun baru saya ditelpon sama seorang sahabat.Sebut saja namanya Ayu.
"Aku bawa berita buruk," katanya. Saat saya tanya beritanya apa, dia menjawab, "Aku diajain nikah,"

WHAT??
bukannya harusnya dia senang, atau seperti iklan di teve itu yang memperlihatkan seorang gadis dilamar dan ia membanggakan cincinnya sambil berkata "Aku dilamar..."

Haha, saya tertawa ngakak. lucu. Masalahnya dia belum siap akan berkeluarga, umurnya masih sebaya saya dan masih senang main-main. Belum lagi, cowoknya memang belum mapan banget, belum juga lulus kuliah, namun sang mertua sudah kebelet nimang cucu. padahal cowoknya itu anak kedua, namun udah ditentukan pembagian bahwa ia harus memberi cucu cowok. (halah)

lain ceritanya dengan teman saya yang lain, sebut saja Dewi. Sudah sering ia cerita saat ketemu kalau pacarnya mendesaknya untuk cepat-cepat merid. saking sayangnya, cowoknya sampai pindah kerja ke bali hanya untuk 'menjaga' dia agar tidak diambil cowok lain. padahal cowok itu menyukai hidupnya di Jakarta.

Namun sampai sekitar setahun pindah, dewi tetap saja belum setuju untuk menikah. alasannya sama, belum siap, padahal cowoknya udah mau kepala tiga, anak pertama lagi.

wkwkwk....
ada ada aja kelucuan sahabat-sahabat saya. Satu persatu diantara mereka dipinang dan diajak nikah, saya yang menampung cerita mereka sih (sementara) hanya bisa ngakak. semetara yah. karena saat mereka benar-benar menikah, saya pasti akan merasa kehilangan (jahat ya?).
But, semua kan harus berjalan.

dan ough, jadi ingat kasus teman sekamar saya dulu. sebut saja Pipit. dia punya pacar umur menjelang tiga puluhan, siap lahir batin dan kepala (ups apa hubungannya?) dan lagi-lagi, cowoknya mendesaknya untuk merid. parahnya dikasih batas waktu lagi (kek somasi aj). kalau dalam jangka waktu yang ditentukan Pipit ga mau nikah, maka cowoknya akan tetap nikah dengan cewek lain.

Hmm... bingung? tentu saja dia bingung. jangankan dia, saya yang dimintain pendapat aja bingung. secara, saya ga pengalaman soal itu. namun setelah banyak pertimbangan, termasuk dari keluarganya, akhirnya mereka merid sudah, dan anaknya sudah hampir setengah tahun belun saya tengok.

hiiii...
melihat rentetan fenomena ini, saya ngikik sendiri. begitu rumit ya keputusan untuk berumah tangga itu, seakan tidak pernah ada istilah yang namanya 'siap', setiap bride selalu mengatakan bahwa ia siap atau tidak siap, hal itu haruslah dijalanin.
dan melihat kenyataan, kakak ipar saya sendiri yang menikah pada umur 15 tahun, toh siap ga siap, sekarang setelah hampir satu setengah tahun menikah dan punya anak yang siap menempel saat saya pulang, kesiapan itu memang akan datang ketika memang diinginkan dan diharuskan.

hah, pusing ama kata kata saya?
jangan pusing, karena saya juga pusing jika disuru memberi saran oleh Ayu ataupun Dewi nanti.

10 komentar:

  1. PERTAMAX?

    yang namanya nikah emang butuh kesiapan mental juga...
    bukan sekedar menyatukan 2 insan yang berbeda (halah bahasanya..)
    pi juga menyatukan 2 keluarga...

    BalasHapus
  2. wkwkwk saya pos komen nih...

    hiks, jadi ngiri liat ada yg dilamar"...saya aja belum punya pacar, eh tapi cowoknya banyak loh...tampan" lagi..
    XD

    tapi mereka tak kenal saya :(

    BalasHapus
  3. wadow, umur 15 tahun dah menikah...
    klo saya kira2 siapnya umur berapa yah tuk nikah? hemmm, siap si sudah yg mau dinikah yg ga da, wwkwkwkw...

    BalasHapus
  4. Nikah? siapa sih yang nggak mau...
    tapi ya itu tadi persoalan siap atau tidak tinggal personilnya. usia tidak bisa jadi pedoman...

    BalasHapus
  5. heuheu...kalo saya justru nunggu ada yang ngomong alias ngajak nikah kekeke....

    BalasHapus
  6. Nikah?
    makanan jenis apa??

    XD

    BalasHapus
  7. ya siap gak siap itulah yg harus dijalani.... toh nanti seiring berjalannya waktu, kesiapan itu sendiri akan menjadi suatu keharusan......

    BalasHapus
  8. Nikah itu enak koq chi,...
    buktinya banyak orang yang sampe nikah beberapa kali.

    BalasHapus

About