Kamis, 15 Januari 2009

Ubi dan Daging Sapi

Sebuah keluarga di tepian kali, sudah beberapa hari meranggas karena kekurangan makanan. Mereka miskin, teramat miskin untuk membeli beras. Jangankan beras, kadang mereka hanya makan ubi atau umbi-umbian lain yang tumbuh di sekitar. Dan sedikit beruntung karena mereka tinggal di dekat sungai, sehingga tanah yang mereka diami sedikit subur.

Dan sekarang, makanan mereka juga hanya ubi. Dan sang anak bungsu, dengan muka polosnya berujar,

"Ibu, lama-lama aku bosan makan ubi terus!"

Ayah dan Ibunya saling menatap, dengan kerling muram dan sedih.

Anak yang tertua berkata, "Jangan begitu, Dik! ini kita sudah bisa makan. Bersyukurlah!"

Ayah dan Ibunya tersenyum, terharu melihat pengertian anak sulungnya.

"Tapi aku ingin merasakan daging sapi, enakah?" lanjut anak bungsu.

Ayah dan Ibunya kembali diam. Anak sulungnya mengerti bahwa orang tuanya sedih, sementara adiknya juga terlalu polos dan ia yakin bahwa adiknya tidak bermaksud untuk menambah kesedihan orang tuanya. Hanya celoteh anak-anak istilahnya.

"Adik ingin tahu rasa daging sapi?" goda sang kakak. Saat adiknya mengangguk, ia melanjutkan. "Rasanya sama dengan rasa ubi yang kamu makan saat kamu benar-benar lapar. Apa kamu bisa membayangkan?"

Adiknya diam, membayangkan. Sesaat kemudian wajahnya menjadi cerah. "Tahu, Kak. Aku tahu, dulu kan pernah kita dua hari tidak makan karena musim kemarau, dan Ibu akhirnya dapat ubi dari Pak Lurah. Dan saat dimasak, rasanya itu enakkkkkk sekali! Apa begitu rasa daging sapi itu?"

Kakaknya mengangguk. "Begitulah rasanya. Enaknya sama, tidak berbeda sama sekali," ujarnya puas. "Nah, kalau kamu sudah tahu rasanya, apa kamu masih ingin makan daging sapi?"

Sang adik menggeleng. "Tidak, kak! Kalau rasanya sama dengan ubi, kenapa kita harus beli daging sapi yang harganya jauh lebih mahal, iya, kan, Bu?!"

Sang Ayah dan Ibu hanya bisa mengangguk, sedih, takjub, bangga, haru, dan juga lega.


NB dari penulis
awalnya idenya ga begini ding, tapi kok begini ya jadinya, kekekeke

This entry was posted in

9 komentar:

  1. pinter juga ngatasin masalahnya ya. Ubi disamakan dengan daging sapi, jadi gak usah beli daging sapi deh.

    Kenapa gak dikirim ke majalah aja nih cerpennya?

    BalasHapus
  2. ceritanya bener-bener bagus.mengajari kita untuk terus bersyukur.

    BalasHapus
  3. bedanya kalo ubi gas buangnya wuangi, kalo daging sapi tetep wangi.

    BalasHapus
  4. Duh kasihan baget ya, dapat gizi dari mana klo yang dimakan cuma ubi....itu kan hanya untuk membuat perut kenyang!

    Kisah yang menarik .....penuh inspirasi

    SEMANAGaT!!

    BalasHapus
  5. aku lebih melihat pada kecerdasan si kakak dalam nasehat dan nyelesain masalah yang tak terduga, bener2 jawaban yg kreatif dan bijak

    BalasHapus
  6. tapi pengen ubi yang ada tulangnya maaah.... he he hee....

    BalasHapus
  7. wah, ubi rasa daging sapi ada gak ya ?

    hehe

    BalasHapus
  8. inspire juga ceritanya,,,,,

    BalasHapus
  9. awalnya idenya gak begini, tapi jadinya begini..... tapi terlihat bagus kok nchi.

    BalasHapus