Selasa, 13 Januari 2009

Payung Itu Sudah Ada Yang Punya, Ternyata


Sebuah payung dipajang di satu etalase kaca. Bentuknya indah, dengan warna manis semanis senyuman. Daunnya terbuka lebar, ramah, seakan mengundang semua orang untuk bernaung di bawahnya. Tangkainya panjang dan ramping, seperti tongkat indah sang peri. Motifnya juga unik, kain penutupnya seperti bahan rajut dengan lubang-lubang kecil, sangat orisinil dan khas, tidak ada payung lain yang seperti dia. Sistem untuk menutupnya pun canggih, menunjukan bahwa payung itu begitu mutakhir, hebat (untuk seukurannya) dan juga pintar. Semuanya, semuanya seperti dia.

Saya menyukai payung itu.
Sejak lama malah, sekitar hampir setahun, dan sayangnya baru tersadar sejak beberapa bulan yang lalu tentang itu.

Saya menyukainya, dan seperti kebanyakan orang, saya ingin memilikinya. Namun saya tahu bahwa memilikinya mengandung banyak resiko, membutuhkan banyak kesabaran.

Seandainya saya memilikinya, maka saya harus siap saat untuk merasa kedinginan suatu waktu karena kainnya yang bermotif rajut, seolah dia tidak melindungi saya walaupun caranya sebenarnya berbeda. Atau, saya harus menyediakan pikiran ekstra untuk menyaingi kehebatan sistemnya, tidak seru kan kalau payungnya hebat namun saya bodoh? Dan yang paling utama, saya harus merawatnya sedemikian rupa agar bahannya yang lembut itu tidak robek, hingga meninggalkan saya selamanya.

Tapi itu baru seandainya, karena nyatanya saya tidak bisa memilikinya.
Pernah saya mencoba untuk itu, dengan perjuangan besar kala itu, dengan resiko bahwa pengorbanan yang saya lakukan pastilah berat.
Kala itu,saya menawarkan rumah saya untuk menjadi tempatnya dipajang, namun ternyata dia masih terlalu istimewa untuk menempati ruangan saya, dan ia hanya meninggalkan selembar brosur rekamannya, yang siap saya lihat setiap hari.

Bagaimana rasanya melihatnya hanya lewat brosur?
Menyakitkan sekali, tapi entahlah, berbulan-bulan belakangan ini saya mengalaminya. Sedikit demi sedikit saya berusaha melupakan warnanya yang manis, atau sistem tutup-bukanya yang hebat, namun susah, karena mungkin karena dia begitu unik hingga susah digantikan dengan payung lain.

Hingga akhirnya tadi, seorang teman berkata, bahwa, payung itu ternyata sudah dimiliki orang lain, yang entah siapa, entah sejak kapan. Payung itu sudah ada yang punya, ternyata.

Dan sekarang, saya hanya bisa menangis sedih, dengan harapan bahwa kenangan akan brosur itu bisa menghilang secepat fisiknya.

Terimakasih, Payung Yang Manis.
Semoga berbahagia di rumah orang itu

9 komentar:

  1. Sad short story.

    come on sista, let us pray

    BalasHapus
  2. gila ni anak.. lagi patah hati aja bisa sekeren ini tulisannya..

    hahaha..

    aku lagi patah hati kok gak bisa nulis apa-apa, ya?

    hahaha..

    eh, Jeng.. ternyata telpon2an sampe jam 5 sore gratis, ding.. kapan2 kita ngga usah telpon2an malem2 lagi... :))

    siang2 aja pas engkau kerja.. hahaa... atau minggu? telpon2an terus?

    miss u so so...

    T.T

    BalasHapus
  3. payung??? lagi hujan ya? hehehe
    dah beli aja di tempat lain

    BalasHapus
  4. wah bahasanya sastra banget. ....penuh inspirasi....pokok e manteb...

    BalasHapus
  5. harus baca berulang ulang agar mengerti maknanya :)

    BalasHapus
  6. Baaaah...patah hati menimbulkan efek yang luar biasa dasyaaat..ceritanya okeeeeh....tapi cerita ato curhat yaah hahahahaha...semangaaaat temankuuu

    BalasHapus
  7. saya menangkap arti lain dari cerita ini. seperti ada harapan dan keinginan akan sesuatu yg belum tergapai, atau memang tidak tercapai....

    Rasanya menyedihkan memang tapi...masih akan ada payung2 lain yg lebih cantik yg bisa kamu miliki.

    BalasHapus
  8. nchi kalau aq jatuh cinta sama tulisanmu boleh kan??? wuakakakakakak eh tp aq masih normal loh nchi.... muach..... xixixixixi

    BalasHapus
  9. Cape ah... besok lagi ngubek postingan.

    BalasHapus