Jumat, 09 Januari 2009

Cerita Tentang Nenek Pemakan Katak

Sinar bulan sedang penuh, purnama di kaki bukit. Angin-angin bersiul nakal, menyukai kedamaian semesta dalam bingkai malam ini. Sawah-sawah bersorak gembira setelah hujan, kini menghidupkan derik katak dan jangkerik di sekitarnya. Alam sedang bersenandung.

Di bawah pohon Andita bertanya pada kakaknya. "Kakak, memang benar cerita Nenek Pemakan Katak itu ada?"

Kakak mengangguk. "Ceritanya begitu pada jaman dahulu."

Andita bersila, sambil mendekatkan badan ke kakaknya. "Bagaimana ceritanya?"

Kakak tersenyum, dan mulai bercerita. "Katanya pada malam kajeng kliwon, para nenek yang bisa ilmu hitam butuh makanan untuk ilmunya. Mereka membawa ketupat bekas sesajen hari itu, saat semua sudah terlelap di alam mimpi, sang nenek mengendap-endap keluar rumah. Ia membawa tongkatnya, berjalan terbungkuk-bungkuk menuju sawah. Seekor katak saat itu lewat, meloncat-loncat kegirangan oleh air dan cahaya bulan. Ia tidak sadar ada langkah yang mendekat. Ia terus meloncat, hingga sang nenek menangkapnya."

Andita mengerang ngeri. Tapi ia mendengarkan jua lanjutan cerita kakak.

"Katak itu dimakan, dipakai lauk ketupat yang dibawa sang Nenek. Kemudian katak-katak yang lain ikut menjadi santapan sang Nenek. Hingga akhirnya pagi menjelang, sang Nenek kekenyangan, ketika hendak pulang ia baru sadar kalau perutnya membesar. Karena panik, maka di sepanjang jalan, ia memuntahkan lagi makanannya di atas pematang-pematang sawah. Dan esoknya, orang-orang akan menemukan tumpukan kotoran putih bercampur abu-abu seperti kulit kodok."

Andita merinding. Ia melihat sekeliling dengan ketakutan. "Kenapa ceritanya seram begitu?"

"Memang begitulah keadaanya."

"Lalu, apakah bayangan bungkuk yang di pematang sawah sebelah barat itu adalah Nenek itu?"

Kakak menoleh ke arah yang ditunjuk Andita. Tampak bayangan orang bungkuk sedang mengendap-endap di pematang sawah, membawa sebuah tongkat dengan sesuatu seperti bungkusan tersangkut di ujung tongkatnya.

Kakak mendelik kaget, lalu meraup Anditia dan menggendongnya pulang.


10 September 2008
Kenangan akan Impian yang telah mati


This entry was posted in

5 komentar:

  1. ngeri banget ya. Nenek pemakan katak. Iiih...horor deh!

    BalasHapus
  2. awalnya berasa di london. eh setelah ada kata sawah jadi serasa di desa bojong gede kuningan cirebon, hahaha

    BalasHapus
  3. untung nenek itu pemakan katak , bukan pemakan andita..., kaget aku pas baca ada bayang di pematangsawah *aku sambil nolah-noleh*

    BalasHapus
  4. jiaahhh dirimu menulis cerita horor juga nchi.... :D

    BalasHapus
  5. Kayaknya bisa nih saya beri gelar Miss Horror untuk kamu chi...

    BalasHapus