Senin, 16 Februari 2009

Sebuah Permen Warna Kuning Dalam Stoples Kaca Bertutup Merah

Sebuah permen berwarna kuning, sudah seharian berdiam di dalam stoples kaca bertutup merah. Bungkusnya yang plastic transparan tanpa merk, karena ia hanyalah produk rumah tangga yang dibuat dengan alat sederhana dari tangan seorang wanita tua yang penuh harap akan anak lelakinya yang menjelang masuk sekolah. Bentuknya bulat lonjong, mulus, beku sama sekali tidak meleleh. Hal terakhirlah yang paling ia syukuri, setidaknya bentuknya masih utuh, jika ia ingin mendapat surganya sendiri. Dan surganya adalah dimakan, karena untuk itulah ia dibuat.

Ia kesepian di dalam sana. Sendirian menghitung waktu. Seharusnya ia senang mungkin karena sendiri, jadi tidak akan ada kesempatan bagi anak lelaki yang menempatkannya si stoples itu untuk memilih permen lain untuk dimakan. Namun yang membuatnya cemas adalah, anak lelaki itu tidak kunjung datang untuk membawanya ke surga.
Maka, permen kuning tanpa nama itu terus menunggu dan menunggu.

Ia mengingat kisahnya sendiri. Berawal dari sebuah rumah tua di tepi kota, ia lahir disana. Setelah dikemas, ia dibawa ke tengkulak hingga akhirnya dipajang di stoples kaca lain di sebuah toko, bersama ratusan permen lain.

Kemarin sore, seorang anak laki-laki tampan bersenyum manis datang dan memandanginya dari jendela kaca. Anak itu melekatkan tangan di jendela, tenggorokannya naik turun tanda bahwa ia menginginkan permen itu untuk ia makan. Pemilik toko melihatnya, tumbuh rasa kasihan dalam hatinya pada anak itu, hingga ia mengambil sebuah permen dan memberikannya pada anak itu. Dan begitulah kisah awal permen kuning itu ada di saku anak laki-laki itu.

Sayangnya, anak itu tidak langsung memakannya. Ia ditempatkan di kantung kemejanya yang tergantung sepanjang malam hingga pagi tadi. Ketika Ibu sang anak laki-laki menemukannya, sang anak masih berkeras belum mau memakannya.

“Akan aku makan nanti malam, Ibu. Sebagai bekalku belajar.”

Begitu anak itu berkilah, dan akhirnya sang Ibu berkata sesuatu.
“Kalau begitu, kamu harus meletakannya di suatu tempat agar dia tidak mencair. Lihatlah, udara sangat panas pagi ini, matahari bersinar terang, langit cerah. Jika kamu meletakannya di saku, Ibu khwatir ia akan mencair dan jika sudah mencair kamu tidak akan bisa memakannya.”

Anak itu mengerti dan berpikir sejenak. “Aku tahu harus aku apakan Ibu. Aku akan meletakannya di sebuah stoples. Permen-permen di toko diletakan didalam benda itu hingga tahan dalam jangka waktu lama. Aku akan meletakan permen kuningku di dalam stoples.”

Maka disana permen kuning itu sekarang, selamat dari panasnya matahari setelah sang anak meletakannya dalam tempat yang aman.

“Harusnya kamu bersyukur, permen kuning!” ucap air yang ada di gelas di samping stoples. “Lihatlah aku, tadi pagi aku banyak, memenuhi gelas ini. Namun karena Kakak anak laki-laki itu tidak menutup gelasku, aku jadi menguap dan berkurang seperti ini. Aku malah khawatir, kalau kelamaan aku bakal habis, dan aku tidak akan bias menemukan surgaku sendiri di mulut manusia.”

Permen itu tercenung mendengar perkataan sang air. Ia sadar bahwa perkataan temannya itu benar, jika anak lelaki itu tidak meletakannya di dalam stoples, yakin ia akan mencair.

Permen itu tidak bicara apa-apa, ia menoleh ke langit di luar sana. Cahaya matahari tampak muram, mendung ternyata mulai menggelayut tanpa sepengetahuannya. Saat ia menoleh ke jam, rupanya sudah lewat tengah hari, dan harusnya anak laki-laki itu sudah pulang. Lalu kenapa derap langkahnya belum juga terdengar sampai saat ini?
Lalu hujan turun dengan derasnya. Petir menyambar di angkasa, angin berhembus kencang. Titik-titik hujan memukul-mukul permukaan kaca selama hampir satu jam, dan anak laki-laki itu belum juga pulang. Inilah masa-masa suram yang mencekam bagi sang permen warna kuning, badai.

Sekitar jam tiga siang, hujan reda. Syukur matahari kembali muncul dan akibat pembiasan cahaya di langit, permen kuning itu bias melihat lingkaran warna pelangi di belahan langit. Ia takjub melihatnya, terutama saat menyadari bahwa pelangi juga berisi warna kuning, merah, biru dan ohh… ternyata ia baru sadar, seluruh warna di dunia ada dalam lukisan agung itu. Oh, dia bisa melihat indahnya warna dunia dalam satu keajaiban.

Pelangi menghilang bersamaan dengan abisnya air hujan dan jam sudah menunjukan pukul empat. Tetapi, kemana anak laki-laki itu pergi? Kenapa ia belum pulang untuk memakan sang permen.

Lalu telpon di ruang keluarga berdering. Sang Ibu yang juga cemas buru-buru mengangkatnya, dan tak lama ia jatuh pingsan setelah memekik. Sang ayah datang menyelamatkannya, dan setelah sang Ibu siuman, mereka pergi ke suatu tempat yang sang permen tidak tahu apa itu.

Sore berlalu lagi, namun anak laki-laki itu belum juga pulang.

Kemanakah dia?

Lalu malam setelah sore itu, raungan tangis pecah dalam rumah bersamaan dengan datangnya sebujur tubuh kaku yang telah terbalut perban disana-sini. Mereka mengeluarknnya dari sebuah mobil bersirene dengan ranjang beroda, terbalut kain putih bersih dari ujung kaki sampai kepala.

Malangnya, tubuh itu ternyata adalah anak laki-laki yang membeli sang permen kuning pada suatu sore. Tubuh kecilnya tertabrak mobil saat mau menyebrang di depan toko dekat sekolah, katanya setelah itu ia tidak pernah sadar lagi.
Lalu bagaimana dengan sang permen warna kuning yang tetap berdiam aman di stoplesnya?
Ia sedih, sedih sekali. Ia kehilangan surganya, kehilangan pelindung sekaligus tujuan hidupnya.

Tapi ia tetap harus menjalani harinya yang aman, menunggu waktu sampai akhirnya ada anak lain yang datang untuk membawakannya surga. Namun sebelumnya, ia pasti akan melihat badai dan matahari lagi, kengerian dan kebahagian, seperti tujuan sang anak laki-laki yang tampan saat meletakan sang permen dalam stoples kaca bening.

Teruntuk Panah Hujan, dalam memperingati setahun kepergian sang anak laki-laki, pelindung dan penuntun hidup sang permen warna kuning. Tetaplah bersemangat untuk mencari surgamu, walaupun hujan dan badai menerpa, ataupun matahari cerah memberimu semangat.
This entry was posted in

10 komentar:

  1. cerpen yang bagus....

    dapet ilham darimananih...

    BalasHapus
  2. hiks jadi sedih:( sinih..sinih.. kemarikan permennya utkku sajah chi
    biar mulutnya gak asem nih hehehe

    BalasHapus
  3. nice story nih.
    membuat daya khayalku berlintasan di kepala dan di ujung laci hati

    BalasHapus
  4. hahahaha..

    si wendy minta aku?

    :))

    nice, kak^^

    hadiah terindah..

    love u :*

    anyway, doakan aku.. :P

    BalasHapus
  5. Mungkinkah kita hidup untuk selamanya
    Mungkinkah kita mati membawa harta
    Mungkinkah kita menjadi penghuni sorga
    Ataukah kita kekal di dalam neraka

    Hidup kita bukan akhir dari semua
    Hidup kita bukanlah segalanya
    Siapkah kita saat ajal menjemput kita
    Siapkah kita menghadap kepadaNya

    *taken from ungu-hidup hanya sementara*

    BalasHapus
  6. ini kisah nyata atau bukan ya?? kok kyk kisah nyata

    BalasHapus
  7. Candy...candy....
    saya juga suka Non..?
    salam kenal ya...
    kunjungan perdana di blog yang keren.

    BalasHapus
  8. runtun bahasa tidak membutakan pembaca [aku] untuk melewati setiap paragrap yang disusun sempurna dalam membangun ruang2 imajiner, dari segi bahasa aku suka... ringan... dan menjebak mata kita untuk menghabisi setiap katanya..

    tetap saja kenikmatan itu ada waktunya

    BalasHapus
  9. bagus, rik. :-)
    buat michel, dirimu kuat dan akan semakin kuat.

    BalasHapus