Rabu, 19 November 2008

Kisah Tadi Malam

Saat saya melihatnya, kakinya masih sangat jauh dari air. Kasihan sih, tapi rasanya lebih baik membiarkan dia dengan keyakinannya. Jika itu menurutnya benar, bukan tidak mungkin memang itu yang akan terjadi.

Saya duduk lima meter di belakangnya, melihat punggungnya yang menghadap laut lepas, di kegelapan malam dan sapuan angin dingin. Mendengar musik, lalu jatuh dalam lamunan pribadi, cara efektif untuk mengusir sesuatu yang namanya kebosanan dalam menunggu.

“Mama, datang, Ma!”

Ia berbisik lagi, sedikit keras sampai terdengar. Saya menghela napas, merasa miris untuk ke sekian kalinya. Salah mungkin saya dulu mengajarkannya bahwa mencintai laut itu indah, walaupun sekarang ia mengartikannya dengan hal lain, Mamanya adalah laut karena abunya menjadi media terakhir sebelum ia lenyap.

Hingga sekarang ia masih menunggu hingga bibir ombak menyentuh kakinya, keyakinannya, bahwa jika begitu maka Mamanya juga pasti sedang merindukannya. Saya membiarkannya.

Sampai kemudian, saya merasakan kehadiran seseorang di sebelah kanan. Benar saja, seorang Bapak-bapak berjongkok di atas tulisan empat huruf saya. Saya mengernyit ngeri, apa tujuan Bapak ini menghampiri. Kembali terkejut pula, sebelah kiri jongkong pemuda lain, juga di belakang. Oh, tidak, mereka mengelilingi saya.

“Dik, itu temannya kenapa?” tanya Bapak itu.

Saya hanya nyengir. “Tidak apa-apa, hanya…”

“Nggak bunuh diri, kan, Mbak?!” sela pemuda di sebelah kiri, bahkan sebelum saya selesai menjawab.

“Semedi, ya?”

Kali ini yang di belakang, membuat saya lebih baik diam.

“Sepertinya dari tadi dia diam disitu,” ujar Bapak itu kembali.

Saya menggeleng. “Nggak, dia cuma sedang… hyah, biasalah!”

Tak ada padanan kata yang tepat untuk memberi alasan namun tanpa gembar-gembor, sahabat saya sedang merindukan Mamanya di depan sana, dan cukup hanya saya yang tahu. Toh juga, orang di samping kanan-kiri ini, atau yang di belakang, tidak akan bisa berbuat apa jika saja saya cerita. Jadi, buat apa panjang lebar bercerita.

Kerenyahan ombak pecah dan kembali ke laut, saya melihat sebuah gelombang cukup besar mendekat. Sedikit berharap juga, lelehan buihnya bisa mencapai kaki sahabat saya, setidaknya, saya ingin membuatnya merasa aman dan nyaman, walaupun keyakinanya belum tentu benar.

Oh, ternyata benar. Lelehan ombak bisa menyentuh kakinya, melewatinya hingga sampai sekitar stau meter di belakangnya. Saya tersenyum, akhirnya ia mendapatkan keinginanya.

Sahabat saya kemudian menunduk dan berjongkok, meraup air itu ke wajahnya.

“Ah, tasnya basah!” tunjuk pemuda sebelah kiri, membuat saya terpikir tentang barang elektroniknya yang mungkin saja kena imbas air.

Bukan materialistis, tapi realistis saja. Jika ponselnya kena air, mungkin bisa rusak dan itu artinya pengeluaran lagi. walaupun saya sama sekali tidak terlibat dengan pengeluarannya, tapi, saya tidak mau ia membuang uang untuk hal yang sebenarnya bisa ia jaga.

Saya bangkit, meninggalkan ketiga orang yang mungkin melongo.

Sahabat saya sudah hampir terduduk saat itu, tasnya terseret arus sampai batas tali selempangnya.

Saya memegang bahunya, lalu berusaha mengangkatnya, ternyata sulit karena ia menolak.

“Udah, cukup!” ujar saya tegas. “Udah kena air kan kakimu, sekarang kita pulang, aku kebelet pipis ini!”

Dia mau bangkit, akhirnya. Tasnya telah basah di bagian bawah saat saya raba. Sekali lagi ia terisak sedih, dan akhirnya mau saya seret ke pinggir.

Bapak-bapak dan orang-orang itu sudah menghilang entah kemana saat saya kembali. Terserahlah, toh ngeri juga dikerumuni tiga laki-laki tak dikenal itu.

“Pulang, yuk!” ajak saya.

Dia masih terisak, lalu menunduk di pasir. “Sebentar, aku mau buat karya seni dulu!” tolaknya, sambil menulis sesuatu di atas empat hurup tulisan saya.

Saya memandangnya tidak rela, ia membuat karya lain dengan merusak karya saya, dan oh, dia terus menulis. Panjang sekali, hampir sampai sepuluh meter kurang, menyentuh air dan saya bosan memandanginya karena yakin tidak bisa membaca.

“Oe, sudah, pulang, yuk!”

Akhirnya ia mau berhenti setelah air kembali menjilati kakinya. Dan hyah, kadang saya berpikir, jika saya menjadi dia, belum tentu saya berhasil seperti dia.

Jadi, selesai sudah kisah tadi malam.

di tengah kebosanan, 18 nop o8.
2.30 PM WITA



^ ^
This entry was posted in

9 komentar:

  1. sederhana sekali...

    aq konsen menceritakan apa yang aku rasakan, jadinya rada monolog gt. thanks commentnya ya...

    BalasHapus
  2. mencoba memahami sesuatu dibalik cerita ini

    BalasHapus
  3. mencoba menjitak buwel.... :l:

    BalasHapus
  4. wakakkakka...ampun joe....

    BalasHapus
  5. zujoe sama buwel kok ya terus2an bertengkar sech.... hufz....

    itu berarti si anak itu kehilangan mamanya toh....

    BalasHapus
  6. Aku malah tertarik pada para komentatornya nih...
    nggak bisa akur kayaknya.

    BalasHapus
  7. Tapi postingan kamu mantap juga koq chi...

    BalasHapus